Nasib Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Di Indonesia

SALAH satu parameter penting keberhasilan suatu pemerintahan ialah di bidang ekonomi. Di sektor itulah sejatinya kestabilan politik dan pemerintahan digantungkan. Dunia usaha merupakan salah satu penggerak roda ekonomi. Lebih dari itu dunia usaha berperan menopang ketahanan ekonomi bangsa. Namun, dunia usaha tak akan kuasa menjalankan peran tersebut tanpa sokongan pemerintah. Dalam 10 tahun terakhir pemerintah memang telah berusaha menghidupkan iklim berusaha yang kondusif. Namun, banyak pengusaha merasakan pemerintah belum menyokong dunia usaha secara optimal. Infrastruktur, birokrasi, dan regulasi masih menjadi hambatan, dan kerap menimbulkan persoalan.

Perekonomian Indonesia pernah mengalami krisis di tahun 1998, pada saat itu perekonomian benar- benar hancur. Pada tahun 2008 terjadi krisis di dunia, terutama Amerika yang mengalami dampak yang signifikan dari krisis tersebut, tetapi pada tahun 2008 tersebut Indonesia tidak terkena krisis tersebut dikarenakan perekonomian di dalam negeri cukup baik berkat adanya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Di Indonesia. Pada tahun 1998, UMKM terbukti juga dapat selamat dari krisis yang dimana pada saat itu banyak perusahaan besar yang gulung tikar.

UMKM dapat dikatakan sebagai salah satu penyelamat kondisi perekonomian Indonesia karena mampu  menyerap banyak tenaga kerja yang saat itu pengangguran atau terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Selain itu, UMKM mampu bertahan di tengah guncangan krisis moneter yang melambungkan harga barang- barang kebutuhan rumah tangga pada masa itu (1998). Jutaan UMKM Indonesia bahkan kini mampu menyumbang hingga 56% Produk Domestik Bruto (PDB). Dari data yang dihimpun BPS dari tahun 1998- 2012 grafik pertumbuhan UMKM selalu menanjak dari tahun ke tahun,  saat ini saja UMKM Indonesia berjumlah 56,5 juta unit. . Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah yang membidangi kegiatan UMKM di Indonesia.
UMKM hadir sebagai salah satu jalan keluar bagi Indonesia untuk bangkit dari masa- masa krisis ekonomi. Selain itu, UMKM tumbuh dengan berlandaskan ekonomi domestik, sementara itu pertumbuhan sektor ekonomi Indonesia pun sebagian besar didorong oleh ekonomi domestik. Disinilah dapat dilihat betapa kuatnya pengaruh UMKM di Indonesia, yang jumlahnya sekarang masih terus bertambah. UMKM jelas memegang peranan vital dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Namun apa yang terjadi saat ini tentang kondisi salah satu penyelamat perekonomian Indonesia saat krisis, salah satu contohnya adalah di bidang permodalan bagi pengembangan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), yang dikenal dengan program KUR (Kredit Usaha Rakyat). Di bidang ini Pemerintah merencanakan untuk mengurangi alokasi dana bagi usaha yang digeluti “wong cilik”. Padahal pengembangan UMKM merupakan salah satu strategi yang efektif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi makro. Dalam RAPNB 2013 dana KUR (melalui Kementrian UKM dan Koperasi) dianggarakan  sebesar Rp17,2 miliar. Jauh berkurang dari alokasi dana KUR tahun 2011 yang berjumlah Rp52,2 milyar. Padahal jumlah pelaku UMKM di Indonesia sebanyak 56,5 juta  orang/ unit atau hampir 98 persen dari jumlah total pelaku usaha di Indonesia. Maka bila dibagi dengan jumlah pelaku UMKM maka tidak akan mencukupi untuk membantunya dalam pengelolaan usaha.

Di lain hal ketidakseriusan pemerintah  dalam  untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan UMKM terlihat dari “melempemnya” penguatan kelembagaan koperasi. Bahkan kehadiran pemerintah dalam    perkembangan    koperasi    dirasa tidak    signifikan. Perkembangan koperasi yang berjalan baik di Indonesia sangat lamban. Padahal koperasi merupakan salah satu lembaga demokratis yang mampu menjadi media pemberdayaan dan perkuatan masyarakat  dalam pengembangan UMKM sebagai strategi meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Ketidakseriusan  pemerintah  yang lain bisa kita lihat dalam pengembangan UMKM  adalah adanya ketidak sinergisan di sejumlah kementerian dan lembaga. Hal itu terlihat dari penyebaran program pengembangan UMKM yang ada di sejumlah Kementerian, baik yang ada di bawah Menko Perekonomian, seperti  Kementerian UMKM dan Koperasi, maupun yang ada di bawah wewenang Menko Kesra seperti  Kementerian Sosial dan Kementrian Dalam Negri. Salah satu contohnya adalah program SPP (Simpan Pinjam Perempuan) yang diberikan kepada kelompok perempuan miskin berada di bawah Kementerian Dalam Negeri, sebagai bagian dari program PNPM. Program ini tidak bersinegis dengan program pengembangan UMKM di bawah Kementrian Menkop UMKM yang lebih fokus kepada “peningkatan  kapasitas” pengusaha. Akibatnya kelompok masyarakat yang mendapat modal dalam program SPP, tidak mendapat program pengembangan kapasitas usaha dari Menkop UMKM. Hal ini berdampak pada kemacetan  di sejumlah kelompok penerima modal SPP, dan program peningkatan kapasitas yang tumpang tindih. Padahal program pengembangan UMKM yang terintegratif bisa menjadi salah satu strategi meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang  efektif dan  menciptakan peluang wirausaha baru.  Ini  lagi-lagi berkaitan dengan strategi Pemerintah yang  belum menjadikan UMKM sebagai bagian terpenting dari pembangunan Indonesia. Pemerintah  RI  masih berfokus kepada usaha besar dan pengembangan industri skala besar. Hal itu juga terlihat dari minimnya perhatian pemerintah kepada pertumbuhan pasar rakyat sebagai tempat tumbuhnya UMKM.

UMKM berada dalam suatu lingkungan yang kompleks dan dinamis. Jadi, upaya mengembangkan UMKM tidak banyak berarti bila tidak mempertimbangkan pembangunan (khususnya ekonomi) lebih luas. Konsep pembangunan yang dilaksanakan akan membentuk aturan main bagi pelaku usaha (termasuk UMKM) sehingga upaya pengembangan UMKM tidak hanya bisa dilaksanakan secara parsial, melainkan harus terintegrasi dengan pembangunan ekonomi nasional dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Kebijakan ekonomi (terutama pengembangan dunia usaha) yang ditempuh selama ini belum menjadikan ikatan kuat bagi terciptanya keterkaitan antara usaha besar dan UMKM. Jika tidak, UMKM di Indonesia yang merupakan jantung perekonomian Indonesia tidak akan bisa maju dan berkembang.

Subsidi BBM untuk Melindungi Rakyat: Menolong Atau Menyakiti

Selama bertahun-tahun, pemerintah dari Mesir sampai dengan Indonesia telah mensubsidi harga bahan bakar minyak. Program-program tersebut seringkali diawali dengan niat mulia untuk menjaga biaya hidup yang rendah bagi masyarakat miskin atau, dalam kasus negara-negara penghasil minyak, hal ini dilakukan untuk memberikan contoh nyata dari manfaat kekayaan sumber daya alam – akan tetapi implementasinya malahan menimbulkan konsekuensi antara lain rusaknya APBN, distorsi ekonomi, degradasi lingkungan, dan sebagai akibatnya akan lebih menyakiti daripada membantu orang miskin.

 Subsidi BBM untuk Melindungi Rakyat: Menolong Atau MenyakitiEmerging markets bukan satu-satunya tempat yang mendistorsi energy markets. Amerika, misalnya, yang menekan harga dengan membatasi ekspor. Walupun demikian, praktik subsidi memang diterapkan lebih signifikan di negara-negara berkembang. Aliran dana subsidi ini lebih banyak dinikmati oleh “pengemudi mobil elit” di perkotaan. Temuan Bank Dunia tentang siapa saja penikmat subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia sungguh mencengangkan. Hingga 50,9% subsidi BBM dinikmati 20% orang terkaya sebagai pengguna energy terbesar, adapun masyarakat miskin yang paling berhak menerima subsidi tak lebih dari 6%. Golongan rumah tangga miskinlah yang paling menderita akibat distorsi yang diciptakan oleh internvensi pemerintah dengan subsidi BBM. Mesir, contohnya, memberikan proporsi tujuh kali lebih besar untuk subsidi bahan bakar daripada untuk alokasi subsidi kesehatan. BBM murah lebih mendorong pengembangan industri berat yang bertumpu pada penggunaan mesin-mesin daripada pengembangan industri padat karya untuk menciptakan lapangan kerja yang dapat menawarkan jalan keluar dari kemiskinan.

Manfaat yang ditimbulkan dari penghapusan (baca: pengurangan. Red.) subsidi BBM sangatlah besar. Pemerintahan pada negara-negara berkembang bisa dengan mudah mengkompensasi setiap orang miskin dengan memberikan kontribusi yang lebih besar dari pada hanya sekadar menciptakan bahan bakar yang murah. Selain itu, pemerintah masih bisa mendapatkan sisa dana yang dapat digunakan sebagai reserve sehingga defisit APBN nya bisa diminimalkan. Dalam prosesnya, secara langsung kita akan membantu menyelamatkan bumi ini. Menurut International Energy Agency (IEA), menghilangkan subsidi bahan bakar fosil akan mengurangi emisi karbon global sebesar 6% pada tahun 2020.

Beberapa pemerintahan pada emerging market telah mulai serius untuk melakukan reformasi energi. Iran baru saja memulai tahap kedua perbaikan besar pada alokasi subsidi bahan bakarnya dengan menaikkan harga bensin, gas, dan listrik. Presiden baru Mesir pun diminta untuk mengurangi subsidi energi agar tercipta ruang fiskal yang lebih besar sehingga nilai defisit anggaran dapat turun. Maroko dan Yordania telah memotong subsidi dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan Kuwait mengumumkan bahwa pihaknya berencana untuk menghapuskan subsidi diesel. Pada tahun lalu, Indonesia menaikkan harga bensin lebih dari 40%, dan bahkan calon presiden pada Pemilu mendatang telah menyatakan akan mempertimbangkan perubahan yang lebih komprehensif pada besaran subsidi bahan bakar karena penataan kebijakan subsidi energi seyogyanya harus dilakukan pemerintahan baru periode 2014 – 2019.

Pemerintah Indonesia bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah menyepakati tambahan subsidi BBM dari Rp 210,7 triliun menjadi Rp 246,49 triliun dalam APBN Perubahan 2014. Lonjakan subsidi ini terjadi akibat adanya perubahan sejumlah asumsi, antara lain kenaikan harga minyak dunia dan perubahan asumsi kurs. Subsidi energi yang sebagian besar dinikmati orang-orang kaya kini mencapai 22% terhadap total APBN. Sebaliknya, anggaran belanja modal untuk pembangunan infrastruktur yang sangat dibutuhkan bangsa ini hanya 8,2% dari total belanja negara.

Idealnya, pengurangan subsidi harus dilakukan. Dengan pengurangan subsidi BBM akan tercipta harga yang tinggi. Harga yang tinggi akan mendorong pelaku ekonomi mencari barang substitusi sehingga masyarakat akan terdorong untuk mengembangkan inovasi melalui energi terbarukan. Kenaikan harga BBM sendiri sebaiknya dilakukan secara bertahap dan pasti, sehingga tidak ada spekulasi pasar yang akan membuat nilai inflasi menjadi berlipat.

Namun hal ini tidak akan mudah dilakukan karena proses politik reformasi yang ada di Indonesia masih sangat sulit. Politisi segan untuk memusuhi golongan elit perkotaan; karena dengan tersedianya bahan bakar murah mereka juga mendapatkan manfaat yang besar (peluang korupsi); sedangkan warga masyarakat sendiri telah membangun mosi tidak percaya akan adanya pemberian kompensasi oleh pemerintah. Pengalaman menunjukkan bahwa setiap upaya untuk memotong subsidi perlu disertai dengan kampanye pendidikan kepada publik untuk menjelaskan biaya dan ketidakadilan atas subsidi, dibuat penjadwalan yang jelas untuk menaikkan harga bahan bakar secara bertahap, serta didukung dengan pemberian kompensasi yang tepat sasaran untuk mengimbangi efek kenaikan harga yang akan paling dirasakan oleh golongan miskin.

Walaupun telah tercipta politik yang bersih dan rencana yang terbaik untuk memotong subsidi bahan bakar, mengharapkan perubahan yang besar dan terlalu cepat bisa mengakibatkan kesalahan. Mengapuskan subsidi bahan bakar memang sangatlah sulit. Dilema pun akan timbul apabila komitmen untuk mengurangi subsidi dilakukan secara massive sedangkan harga minyak dunia secara signifikan naik, sehingga tekanan pada negara-negara berkembang untuk “melindungi” warga negara mereka dari bahan bakar yang lebih mahal akan mentidakefektifkan komitmen untuk mensejahterakan masyarakat melalui pengurangan subsidi. Namun apabila melihat kondisi yang ada saat ini, tampaknya peluang untuk mempercepat reformasi energi terbuka lebar. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan bukan hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh kita bersama.

Ditulis Oleh : Bramantya Saputro

Kepala Departemen Kajian Strategis BEM PEFEUI 2014 – 2015

 

Open House 2014

Banyak yang bertanya-tanya bagaimana cara masuk ekstensi, apa saja syarat masuk ekstensi fakultas ekonomi, apa saja jurusan yang tersedia dan kapan lama waktu studinya. Pertanyaan tersebut wajar bagi setiap orang yang Baca selengkapnya “Open House 2014” »

Pendaftaran Mahasiswa Berprestasi

Kamu ngaku anak ekstensi FE UI yang berprestasi?
buktiin kalo kamu punya kemampuan di bidang akademis dan akademis yang patut
diapresiasi dalam pemilihan Mahasiswa Berprestasi (MAPRES) Ekstensi FE
UI 2013!
Kamu bisa buktiin dengan mengirimkan 4 berkas berikut dalam bentuk
(ZIP/RAR) dengan subjek dan nama file -> (Pendaftaran
Mapres PEFEUI2013 – <nama-jurusan-angkatan>) ke (email grandreunionpefeui@gmail.com)
paling lambat tanggal 20/4/2013. Berikut dokumen yng perlu kamu
kirimkan:

1. Transkrip nilai (dari siak NG)
2. Curriculum Vitae+foto terbaru
3. Essay sebanyak min.2 dan max.5 halaman (A4, Arial:12, Spasi 1.5, Margin:
L=2cm R=2cm T=2cm D=2cm.) mengenai: Apa kontribusi yang akan kamu
berikan sebagai alumni ekstensi FE UI nantinya kepada ekstensi FE UI,
UI, dan Indonesia (jabarkan sedetail dan sekonkrit mungkin).
penilaian:

a. Kreativitas ide (30%)
b. Tingkat ke-detailan (30%)

c. Visibililtas (40%)
4. Pernyataan pengajuan dan alasan mengapa kalian pantas terpilih sebagai
MAPRES Ekstensi FE UI 2013 (berisi 3 poin dan dalam bentuk narasi)
sebanyak 1 halaman.

Kamu juga akan mendapatkan uang saku dan penganugeraha predikat Mahasiswa Berprestasi Ekstensi FE UI
2013 akan dilakukan saat acara The 56th Grand Reunion 27/4/2013. Ayo buruan ikutan! Kesempatan
ini akan membuka banyak peluang buat kamu!

CP: Winda – 081219297484 – @dawinwinda – @ekstensifeui

This April 27th: The Grand Reunion PE FEUI

I. Rundown Acara

START END EVENT
18.00 18.30 Registrasi peserta
18.30 18.35 Sambutan Ketua Pelaksana
18.35 18.45 Tarian Pembuka dari SGB FEUI
18.45 18.50 Sambutan Dekanat
18.50 18.55 Sambutan Perwakilan Rektorat
18.55 19.05 Penayangan Slideshow (mata kuliah dan dosen pengajar)
19.05 19.15 Hiburan musik (2 lagu)
19.15 19.25 Pesan dan Kesan dosen serta pemberian penghargaan untuk masa abdi terpanjang dosen pengajar ekstensi
19.25 19.45 Hiburan Angklung Udjo
19.45 20.15 Makan Malam dan ‘Me Time’ bagi peserta diiringi musik
20.15 20.25 Pidato dan pemberian penghargaan bagi lulusan terbaik atau yang di anggap sukses dan inspiratif
20.25 20.45 Hiburan vocal group dan akustik (Me Time)
20.45 21.15 Hiburan Band dan Me Time
21.15 21.30 pemutaran video/slide show kegiatan perkuliahan ekstensi
21.30 21.40 Penyerahan piagam MURI
21.40 21.50 Pemberian penghargaan mapres
21.50 22.00 Penutup dari ketua pelaksana dan dekan FE
22.00 selesai Sesi foto angkatan

 

II. Event Summary

Talkshow

“SEKILAS MENAPAK TILAS”

Focus:

- History of the founding of PE FEUI

- PE FEUI structure organization

- Goals and achievements of PE FEUI

Speakers :
1. Prof. DR. Suroso, SE, MBA
(FEUI Professor of Management & Dean of FEUI Extension 1998-2004)
2. Imo Gandakusuma, MBA
(Dean of Management Study Program of FEUI Extension)
3. Sri Nurhayati, MM
(Dean of Accounting Study Program of FEUI Extension)

 

“SHARING FROM ALUMNI”

Focus:

- Story of PE FEUI Alumni (expectation vs reality)
- Interpersonal skills (leadership, communication, etc.)
- Program Ekstensi in the eyes of UI, Business and Society
- Entrepreneurship & incubator

Speakers:

1. Ir. Jero Wacik, SE*
(Minister of Energy and Mineral Resources of The Republic of Indonesia)
2. Dirman Pardosi, SE*
(President Director of AJB Bumiputera 1912)
3. Prof. Dr. Ir. H. Bun Yamin Ramto, SE*
(Former Deputy Governor of DKI Jakarta)

 

“GATHERING”
Focus: It’s time to meet all old friends and professors. It’s time to renew old ties and friendships developed during campus days.

 

“STUDENT ACHIEVEMENT AWARDS”
Focus: Seeks to recognize students who have played a key role in contributing and bringing honor to FEUI Extension Program inside and outside of the academic curriculum.

 

III. Time & Location

Date : Saturday April, 27th 2013

Location :

Gedung Dhanapala, Departemen Keuangan RI
Jalan Senen Raya No. 1, 10710, Indonesia
FREE REGISTRATIONS via web grandreunionpefeui.com/registration

 

atau daftar di bawah ini

Quo Vadis Pemuda

Jika Berbicara tentang kehidupan berbangsa dan bernegara, maka tidak akan lengkap apabila tidak juga membicarakan tentang pergerakan pemuda di negara tersebut. Semua orang pasti sangat setuju apabila dikatakan bahwa masa depan bangsa dan negara ini hampir sepenuhnya berada ditangan pemuda.

Contoh yang paling jelas adalah peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa ini,  proklamasi. Tanpa peran pemuda yang bertindak cepat meyakinkan Soekarno – Hatta untuk  segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pasca dijatuhkannya bom atom di Jepang pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 oleh Amerika Serikat, mungkin bangsa ini masih berada dalam kekuasaan Jepang yang tidak mau menepati janji untuk menyerahkan kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam.

Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 juga adalah sebuah terobosan politik yang sangat berani dari kaum pemuda Indonesia pada saat itu dalam rangka menjawab tantangannya, yaitu bagaimana mempersatukan bangsa ini yang sangat plural dan majemuk. Mereka berani bergerak cepat untuk melakukan perubahan demi kemajuan bangsa.

Di zaman penjajahan, yang diperjuangkan oleh pemuda adalah kemerdekaan. Hal  tersebut sangatlah berbeda dengan yang harus diperjuangkan oleh pemuda Indonesia era ini. Diperlukan perjuangan untuk menghajar kemelaratan, keserakahan, korupsi, dan sifat-sifat buruk lainnya yang sedang berkecamuk.

Namun, sayangnya kebanyakan pemuda saat ini terjebak dalam arus kehidupan yang  hanya mementingkan hal-hal yang berbau permukaan, semacam gaya berpakaian, mode  rambut, dan lain-lain, atau hanya berorientasi pada pemuasan kecenderungan untuk  bersenang-senang, dimangsa oleh nilai-nilai kebudayaan lain.

Era telah berubah dari semula bernuansa ideologis di masa lalu menjadi pragmatis  materialistis di jaman ini.

Kita, sebagai kaum muda saat ini, generasi muda penerus bangsa seharusnya dan  sebaiknya menjawab kegigihan dan perjuangan kaum muda saat era penjajahan dengan cara mengumandangkan semangat untuk merdeka dari belenggu ketertinggalan, kebodohan,  kemiskinan, keterpurukan, kemunafikan, ketidakjujuran, dan ketidakadilan.

Karena kiprah generasi muda sedang ditunggu oleh waktu, Quo Vadis Pemuda  Indonesia.
Oleh: MGS. M. Mansyurdin Meidino & Windy (Calon Ketua & Wakil BEM PE FEUI 2013)

Jer Basuki Mawa Beya di dalam kepemimpinan

Jer Basuki Mawa Beya adalah tulisan dalam bahasa jawa. Saya sebagai orang Jawa pasti mengerti arti dari tulisan tersebut dan saya merupakan orang Jawa Timur yang menggunakan tulisan itu dalam lambang Jawa Timur. Jer Basuki Mawa Beya adalah semboyan atau motto Jawa Timur yang artinya adalah setiap keberhasilan membutuhkan pengorbanan maksud dari arti ini adalah untuk mendapatkan sesuatu harus mengorbanankan sesuatu. Didalam ekonomi arti dari tulisan ini adalah opportunity cost dalam setiap memilih sesuatu maka akan ada sesuatu yang kita korbankan, bila kita membeli permen maka kita akan mengorbankan uang kita dan mengorbankan untuk tidak membeli ayam goreng. Dan didalam kepemimpinan arti dari tulisan ini adalah dalam menjalankan suatu organisasi tidak mungkin tidak mengorbankan sesuatu dalam menjalankan organisasinya untuk mencapai tujuan dari organisasi tersebut.

            Setiap organisasi pasti mempunyai tujuan dan setiap tujuan pasti akan ada hasilnya. Bagaimana kita mendapatkan hasil bila kita tidak melakukan apa-apa? Maka dari itu setiap tujuan dari organisasi dibutuhkan pengorbanan atau biaya, bisa dalam bentuk uang, tenaga, waktu maupun pikiran. Tujuan dari organisasi ada bermacam-macam dan semua itu pasti memerlukan sesuatu untuk dikorbankan seperti bila perusahaan ingin mendapatkan laba yang besar, maka harus menjual barang dalam jumlah banyak dan mengorbankan waktu dan biaya yang banyak dalam memproduksi barang tersebut, lalu dalam menjual barang tersebut diperlukan tenaga yang banyak oleh pegawai dari perusahaan tersebut dan pikiran yang dicurahkan pemimpin perusahaan dalam mengatur agar penjualan barang hasil produksi dari perusahaan tersebut dalam terjual.

Pemimpin dalam organisasi adalah orang yang bertanggung jawab penuh dalam mencapai tujuan organisasi dan sewajarnyalah pemimpin yang mengatur pengorbanan apa saja yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil dari tujuan organisasi tersebut. Dalam Negara Indonesia Presiden adalah pemimpinnya disini Presiden mengorbankan pikiran dan tenaganya dalam mengatur Negara agar Negara dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang baik. Hasil dari Negara yang baik ada banyak yaitu penurunan garis kemiskinan, peningkatan kesehatan, peningkatan pendidikan, kenaikan GDP dan lain-lain yang berhubungan dengan kemakmuran Negara. Sama seperti dalam kepemimpinan di tingkat Badan Eksekutif Mahasiswa Program Ekstensi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (BEM PE FEUI) ketua BEM harus mengorbankan pikiran dan tenaganya dalam mengatur organisasinya untuk mencapai tujuan dari organisasi yaitu menjalin dan membangun komunikasi yang baik antar mahasiswa dan alumni, menciptakan nuansa kekeluargaan baik di internal BEM dan lingkungan UI, dan memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa ekstensi FEUI. Dalam mencapai ketiga tujuan tersebut Ketua BEM harus mengatur dan mengerahkan kabinetnya agar dapat mencapai ketiga tujuan dari BEM PE FEUI tersebut. Agar hasil yang didapatkan lebih baik maka pengorbanan/persiapan yang dilakukan harus semakin besar karena setiap pengorbanan yang besar akan menghasilkan hasil yang besar, bila tidak ada pengorbanan maka tidak akan ada hasilnya (no pain, no gain).

Oleh: Laksono Pujiwiyoto & David Susatyo (Calon Ketua & Wakil Ketua BEM PE FEUI Periode 2013)

Alokasi APBN Belum Perhatikan Masyarakat Miskin

Tren penurunan kemiskinan yang dipaparkan BPS dinilai belum merepresentasikan keadaan yang sebenarnya. Baca selengkapnya “Alokasi APBN Belum Perhatikan Masyarakat Miskin” »

[PRESS RELEASE] Pernyataan Sikap atas Upaya dan Kebijakan Pengentasan Kemiskinan di Indonesia

PRESS RELEASE BEM PE FEUI 2012

“Pernyataan Sikap atas Upaya dan Kebijakan

Pengentasan Kemiskinan di Indonesia”

Pada hari Jumat tanggal 9 November 2012, pukul 14.00 WIB, puluhan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Program Ekstensi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (BEM PE-FEUI) akan melakukan audiensi dengan Staf Ahli Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Kemiskinan Ir. W. Budi Santoso. Berbagai masalah kemiskinan yang masih belum terselesaikan di pelosok Indonesia dan evaluasi terhadap kebijakan pengentasan kemiskinan yang ditetapkan oleh pemerintah menggiring kami untuk mengajak petinggi negara, dalam hal ini Bapak Ir. W. Budi Santoso, untuk duduk bersama dan saling bertukar pikiran, ide, dan pendapat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Namun demikian, berdasarkan kajian dan diskusi kami, antara lain dengan mengundang narasumber sejumlah civitas akademika Program Ekstensi FE UI, trend angka penurunan kemiskinan yang dipaparkan oleh BPS belum merepresentasikan keadaan yang sebenarnya. Secara garis besar, kami memaparkan data kami dibandingkan dengan realisasinya. Yang terjadi adalah alokasi anggaran pada APBN yang digunakan untuk mengentaskan kemiskinan justru melambung tinggi dari tahun ke tahun. Peningkatan alokasi ini nyatanya tidak memberikan tingkat penurunan angka kemiskinan yang signifikan. Bisa dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 1. Alokasi Anggaran Kemiskinan dan Jumlah Penduduk Miskin

Alokasi Anggaran Kemiskinan dan Jumlah Penduduk Miskin [PRESS RELEASE] Pernyataan Sikap atas Upaya dan Kebijakan Pengentasan Kemiskinan di Indonesia

               Source: BPS

Kenaikan alokasi anggaran pada tahun 2010 untuk program-program pengentasan kemiskinan adalah sebesar Rp1,3 triliun dari Rp80,1 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp81,4 triliun pada tahun 2010. Kenaikan alokasi anggaran sebesar Rp1,3 triliun tersebut ternyata hanya memberikan dampak pengurangan kemiskinan sebesar 0,8%. Pertanyaan kami, kemanakah larinya pembengkakan anggaran tersebut?

Dalam kesempatan audiensi kali ini kami juga akan menyampaikan pernyataan sikap dan rekomendasi BEM PE FEUI atas kebijakan yang sudah diupayakan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Berikut ini adalah inti rekomendasi sebagai hasil kajian dan diskusi internal:

  1. Kenaikan alokasi anggaran pada tahun 2010 untuk program-program pengentasan kemiskinan adalah sebesar Rp1,3 triliun dari Rp80,1 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp81,4 triliun pada tahun 2010. Kenaikan alokasi anggaran sebesar Rp1,3 triliun tersebut ternyata hanya memberikan dampak pengurangan kemiskinan sebesar 0,8%. Pertanyaan kami, kemanakah larinya pembengkakan anggaran tersebut?
  2. Dalam kesempatan audiensi kali ini kami juga akan menyampaikan pernyataan sikap dan rekomendasi BEM PE FEUI atas kebijakan yang sudah diupayakan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Berikut ini adalah inti rekomendasi sebagai hasil kajian dan diskusi internal:
  3. Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program pengentasan kemiskinan dan memberhentikan program-program yang tidak efektif
  4. Pembangunan infrastuktur berupa irigasi, jalan dan jembatan di daerah terpencil dan kawasan Indonesia timur untuk memudahkan logistik penduduk disana sehingga mengurangi cost untuk transportasi mereka;
  5. Melakukan tindakan yang serius dan spesifik dalam menangani kasus-kasus kemiskinan di daerah-daerah tertentu, karena tiap-tiap daerah memiliki culture yang berbeda-beda dan permasalahan yang berbeda, sehingga penanganannya pun tidak bisa disamaratakan antar daerah;
  6. Meningkatkan dana untuk program pengentasan kemiskinan yang teruji efektifitasnya dengan realokasi anggaran subsidi energi yang pada APBN 2013 sebesar 316,1 triliun rupiah dan kebanyakan dinikmati penduduk berpendapatan menengah dan tinggi dan Peningkatan penerimaan negara secara umum (pajak dan non pajak);
  7. Memberikan subsidi hanya pada kelompok sangat miskin dengan sasaran subsidi by name and by address yang terus di-update tiap tahun untuk mendapati peta detil kemiskinan di Indonesia dan menghindari overlapping dan kekurangan bantuan. Subidi sebisa mungkin diberikan langsung pada penduduk miskin dan menghindari perantara untuk mencegah timbulnya hal hal yang tidak diinginkan;
  8. Melakukan pengawasan secara berkala terhadap program kemiskinan nasional dalam mendukung penerapan good governance;
  9. Menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan dalam rangka mengurangi tingkat pengangguran dan kriminalitas. Hal ini akan berdampak dalam membuat suatu lingkungan menjadi lebih kondusif.

Kami berharap suara kami didengar melalui audiensi pada hari ini, demi terjadinya transformasi di Indonesia.

Hidup Mahasiswa,

Hidup Rakyat Indonesia!

 

Kepala Departemen Kajian Strategis BEM PE-FEUI 2012
Stephanie Rebecca
CP :     08567333022 (Stephanie)

 

Penyebab Kegagalan Dalam Mengerjakan Skripsi

Dalam menulis ini kita akan mencoba merekfleksi mengapa kita bisa gagal dalam menyelesaikan skripsi. Menjadi salah satu bukti yang dipaksakan yaitu bagi yang sudah kerja kebanyakan akan tertunda. Bukan untuk mencari kambing hitam atau pembenaran, hanya sebagai bahan renungan dan belajar kita.

berikut penyebab kegagalan dalam mengerjakan skripsi yang sering kita temui atau bahkan kita pernah mengalaminya:

  • Malas, apabila penyakit malas ini menjangkiti kita, maka kita akan sering menunda pekerjaan kita. Apabila terus dipelihara akan terakumulasi dan menjadi kebiasaan yang tidak dirasakan lagi.
  • Menunda-nunda, ini juga sifat jelek. Kalau masih ada besok, waktunya masih lama buat apa dikerjakan hari ini. Sampai akhirnya tidak terasa waktu semakin dekat dan tidak bisa menyelesaikan dengan tekanan waktu.
  • Terlalu takut, ketakutan itu menjalari diri sendiri, tercipta oleh diri sendiri. Takut akan dosen pembimbing, takut salah, dan ketakutan yang lain. Alhasil semuanya menjadi terasa sulit karena bayang-bayang itu.
  • Kecanduan internet, tidak bisa dipungkiri, ini menjadi salah satu penyebabnya. Tidak bisa mengatur diri, mana yang harus diselesaikan dan mana kegiatan yang disukai. Saat mengerjakan sambil browsing, akhirnya pandangan teralihkan ke sosial media.
  • Awal yang buruk, mulai mengerjakan sudah di akhir-akhir jalan. Padahal termasuk tipe orang yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan dengan tenggang waktu yang mepet. Baru memulai 3 bulan yang lalu dan itupun tidak terus-menerus.
  • Kehilangan momentum, seperti sebuah motor yang sudah panas di awal karena sempat terhenti lama menjadi perlu waktu untuk panas lagi dan dapat berakselarasi maksimal. Begitu pula ketika kita terlalu lama berhenti setelah seminar desain operasional.
  • Tidak bisa fokus, jika orang bilang untuk menyelesaikan sesuatu maka harus fokus, merencanakan dan buat target. Ada permasalah internal dalam diri yang belum teratasi. Ataupun efek samping lain dari kerja nyambi kuliah. Apabila itu terjadi maka tingkat fokus kita akan berkurang.
  • Tergantung pada teman, siapa sih teman dekat itu? Rahasia!

Tentu masih banyak penyebab lain, beberapa hal di atas adalah yang paling sering kita temukan dalam kehidupan mahasiswa yang gagal dalam menyelesaikan skripsi (KEWAJIBANNYA). Mulai sekarang juga, ayo kawan-kawan bersemangatlah untuk menyelesaikan skripsi. Ingat kan pepatah lama ? Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan.

 

Sumber: http://www.metodeskripsi.com