Bukan Pasar Malam

Sampai kini masih ada sebagian orang yang berpendapat bahwa kondisi sosial budaya Indonesia masih dicirikan oleh: (1) atmosfer kebijakan kerakyatan yang sarat basa-basi politik; (2) birokrasi yang terkadang hipokrit; dan (3) predikat negara korup (sebagian orang itu yg mana?). Wajarlah kalau republik ini diminta memulihkan citra, reputasi, dan daya-angkatnya terhadap martabat rakyat. Bukan kebijakan apabila negara membiarkan rakyatnya hidup dalam suasana yang diliputi kesukaran, penindasan, dan bencana. Dilihat dari sudut pandang geopolitik dan dominasi ekonomi negara maju, Indonesia dikategorikan sebagai Negara Selatan, negara yang sedang berkembang atau Dunia Ketiga. Kategori tersebut menurut Pramoedya Ananta Toer, merupakan pengganti istilah negeri miskin!

Masalah kemiskinan bukan hanya menimpa negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akan tetapi masalah ini juga pernah dirasakan oleh negara-negara maju. Perbedaannya untuk negara-negara maju kemiskinan pada umumnya lebih sering menimpa pada para imigran. Sedekar contoh, Inggris dan Amerika Serikat pernah dihadapkan pada masalah ini. Inggris pernah mengalami kemiskinan-nasional di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri di Eropa. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran.

Sementara itu Amerika Serikat sebagai negara maju juga pernah dihadapi masalah kemiskinan, terutama pada masa resesi ekonomi tahun 1930-an. Bahkan, tahun 1960-an Amerika Serikat tercatat sebagai negara adi daya dan terkaya di dunia. Sebagian besar penduduknya hidup dalam kecukupan, Amerika Serikat juga telah banyak memberi bantuan kepada negara-negara lain. Namun, di balik keadaan itu tercatat sebanyak 32 juta orang atau 1/6 dari jumlah penduduknya tergolong miskin.

Apabila dirunut berdasarkan akar kemiskinan berdasarkan level permasalahan, maka kemiskinan dapat dibegi menjadi empat dimensi, yakni (i)dimensi mikro: kemiskinan akibat mentalitas materialistic dan ingin instan, (ii)dimensi mezzo: kemiskinan akibat melemahnya social trust, (iii)dimensi makro: kemiskinan akibat kesenjangan pembangunan, dan (iv) dimensi global: kemiskinan karena adanya ketidakseimbangan relasi antara negara maju dengan negara selatan?. Sementara itu di Indonesia masalah kemiskinan nampaknya masih terus menjadi “momok”. Meski laju pertumbuhan ekonomi pasca krisis 1997 meningkat, namun laju pengangguran juga meningkat.

Pertumbuhan ekonomi itu apa?

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan pertumbuhan produksi barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian dan dalam selang waktu tertentu. Produksi tersebut diukur dalam nilai tambah (value added) yang diciptakan oleh sektor-sektor ekonomi di wilayah bersangkutan yang secara total dikenal sebagai Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi adalah sama dengan pertumbuhan PDB. Apabila “diibaratkan” kue, PDB adalah besarnya kue tersebut. Pertumbuhan ekonomi sama dengan membesarnya “kue” tersebut yang pengukurannya merupakan persentase pertambahan PDB pada tahun tertentu terhadap PDB tahun sebelumnya. PDB disajikan dalam dua konsep harga, yaitu harga berlaku dan harga konstan; dan penghitungan pertumbuhan ekonomi menggunakan konsep harga konstan (constant prices) dengan tahun dasar tertentu untuk mengeliminasi faktor kenaikan harga. Saat ini BPS menggunakan tahun dasar 2000. Nilai tambah juga merupakan balas jasa faktor produksi (tenaga kerja, tanah, modal, dan entrepreneurship) yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa. Pertumbuhan ekonomi yang dihitung dari PDB hanya mempertimbangkan domestik, yang tidak mempedulikan kepemilikan faktor produksi.

Berikut ini data PDB dengan berbagai turunannya.

Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha (Tahun 2007–Semester I 2011)

Ekonomi Indonesia selama tahun 2007–2010 mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 6,3 % (2007), 6,0 % (2008), 4,6 % (2009) dan 6,1 % (2010) dibanding tahun sebelumnya. Sementara pada semester I tahun 2011 bila dibandingkan dengan semester II tahun 2010 tumbuh sebesar 2,2 % dan bila dibandingkan dengan semester I tahun 2010 (y-on-y) tumbuh sebesar 6,5 %. Angka-angka tersebut diperoleh dari PDB tahun 2006-2009 serta semester I tahun 2010 atas dasar harga konstan 2000.

Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha (Tahun 2007–Semester I 2011)

Distribusi PDB menurut sektor atau lapangan usaha atas dasar harga berlaku menunjukkan peran sektor-sektor ekonomi pada tahun tersebut. Tiga sektor utama: sektor pertanian, industri-pengolahan, dan perdagangan, hotel, dan restoran mempunyai peran lebih dari separuh dari total perekonomian yaitu sebesar 55,8 % pada tahun 2007, 56,3 % (2008), 54,9 % (2009) dan 53,9 % (2010) serta 53,4 % pada semester I tahun 2011. Pada tahun 2010 sektor industri-pengolahan memberi kontribusi terhadap total perekonomian sebesar 24,8 %, sektor pertanian 15,3 %, dan sektor perdagangan-hotel-restoran 10,3 %; sama halnya pada semester I tahun 2011 komposisi ini tidak berubah yaitu sektor industri pengolahan sebesar 24,2 %, sektor pertanian 15,5 %, dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran 10,1 %

Pertumbuhan PDB Menurut Penggunaan (Tahun 2007–Semester I 2011)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia, dari sisi pengeluaran, pada tahun 2007 hingga semester 1 tahun 2011 selalu menunjukkan pertumbuhan positif kecuali ekspor dan impor barang dan jasa yang mengalami pertumbuhan yang negatif pada tahun 2009. Pada tahun 2010, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,6 %, konsumsi pemerintah sebesar 0,3 %, pembentukan modal tetap bruto sebesar 8,5 %, ekspor barang dan jasa sebesar 14,9 % dan impor barang dan jasa sebesar 17,3 %. Pertumbuhan ekonomi sampai dengan semester I tahun 2011 juga menunjukkan peningkatan. Pertumbuhan ekonomi semester I tahun 2011 terhadap semester I tahun 2010 (y-on-y) meningkat sebesar 6,5 %. Peningkatan tertinggi terjadi pada komponen pembentukan modal masing-masing sebesar 15,8 %, 14,9 %, dan 8,3 %. Sumber pertumbuhan terbesar semester I tahun 2011 dibandingkan dengan semester I 2010 berasal komponen ekspor barang dan jasa sebesar 6,6 %.

Struktur PDB Menurut Penggunaan (Tahun 2007–Semester I 2011)

Dilihat dari distribusi PDB penggunaan, konsumsi rumah tangga masih merupakan penyumbang terbesar dalam penggunaan PDB Indonesia; yaitu sebesar 63,5 % (2007), 60,6 % (2008), 58,7 % (2009) dan 56,7 % (2010) serta 54,9 % pada semester I tahun 2011. Komponen penggunaan lainnya yang cukup berperan yaitu pembentukan modal tetap bruto. Pada tahun 2007 peranan pembentukan tetap bruto sebesar 25,0 % dan meningkat lebih tinggi menjadi 32,2 % pada tahun 2010 dan 31,5 % pada semester I tahun 2011.

PDB dan Produk Nasional Bruto (PNB) Per Kapita Tahun 2007–2010.

PDB/PNB per kapita adalah PDB/PNB (atas dasar harga berlaku) dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Selama tahun 2007–2010 PDB per kapita terus mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2007 sebesar Rp17,4 juta (US$1.922,0), tahun 2008 sebesar Rp21,4 juta (US$2.245,2), tahun 2009 sebesar Rp23,9 juta (US$2.349,6), dan tahun 2010 sebesar Rp27,0 juta (US$3.004,9). Demikian juga, PNB per kapita juga terus meningkat selama tahun 2007–2010. PNB per kapita pada tahun 2007 sebesar Rp16,7 juta (US$1.843,1) meningkat menjadi Rp26,3 juta (US$2.920,1) pada tahun 2010.

Bagaimana dengan yang miskin?

Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada September 2011 mencapai 29,89 juta orang (12,36 %), turun 0,13 juta orang (0,13 %) dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2011 yang sebesar 30,02 juta orang (12,49 %). Selama periode Maret 2011–September 2011, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,09 juta orang (dari 11,05 juta orang pada Maret 2011 menjadi 10,95 juta orang pada September 2011), sementara di daerah perdesaan berkurang 0,04 juta orang (dari 18,97 juta orang pada Maret 2011 menjadi 18,94 juta orang pada September 2011). persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah selama periode ini. Penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2011 sebesar 9,23 %, menurun sedikit menjadi 9,09 % pada September 2011. Penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2011 sebesar 15,72 %, juga menurun sedikit menjadi 15,59 % pada September 2011.

Ada beberapa hal yang perlu dicermati mengapa laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak diikuti dengan penyediaan lapangan kerja, sehingga tidak mampu menyelesaikan masalah kemiskinan. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Indonesia belum ditopang dengan sektor-sektor yang memiliki elastisitas lapangan kerja yang tinggi. Akibatnya belum mampu menyelesaikan masalah kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi seperti ini umumnya memberikan pemihakan pada sektor sektor tertentu sehingga mempersempit peluang berkembangnya sektor lain, yang pada akhirnya akan berakibat pada berkurangnya jenis lapangan kerja yang tersedia. Kedua, laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Indonesia masih terkonsentrasi di daerah-daerah di Jawa, mungkin sebagian Sumatera, dan beberapa kota besar lainnya, akibatnya laju pertumbuhan ekonomi ini tidak mampu mengatasi masalah kemiskinan. Padahal melalui laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup. Dengan demikian akan berdampak pada pemberdayaan masyarakat setempat.

Pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan bisa jadi seperti kontrasnya pasar malam dan upah para pekerjanya. Paradoks tadi mencerminkan bahwa tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi yang dialami selama ini masih bersifat semu. Padahal laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan necessary condition bagi pengurangan kemiskinan. Nampaknya terdapat syarat lainnya yang belum dipenuhi, yakni sufficient condition. Laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus efektif mengurangi kemiskinan.

Trus solusinya bagaimana?

-entahlah!!-

 

pramuditya kurniawan

 

Sumber:

  1. APBN 1997-2011
  2. Data BPS