Sexology?

Hidup sebagai anak kos ternyata ada efek positifnya juga, niat ingin menjadi anak mandiri terkadang malah membuat kita makin bergeser dari nilai. Pembimbing kita adalah mesin otak yang diusahakan menjadi lokomotif paling cerdas, serba tegar dan menguasai, tetapi masinis kita merupakan semangat seks. Hati menjelma sebagai gerbong paling belakang. Kita semakin akrab dengan film porno yang diumbar bebas. Sejenak kita seperti kepompong menjijikkan namun jika berhasil bermetamorfosis menjadi kupu-kupu indah itulah yang dimaksud efek positif hidup sebagai anak kos.

Suatu ketika saya dibikin pusing oleh suatu hal, sebagai penikmat setia blue film, kolektor gambar wanita bugil yang kadang diselingi dengan aktivitas swalayan pernah membuat saya mencapai titik jenuh terendah. Setelah berkonsultasi dengan sesepuh yang memilki segudang pengalaman pahit maka saya pun di sarankan untuk bertemu dengan seks. Ya, seks itu sendiri. Bukan seorang lelaki bukan pula wanita. Kalau bertemu Pimpinan BEM Seluruh Indonesia, jelas birokrasinya, meskipun harus ditempuh sembilan jam naik kereta gerobak ke Kota Pelajar.

Tapi bertemu seks??

Berminggu-minggu saya mencarinya, hanya lelah terhadap literatur yang didapat. Seks itu ciptaan Tuhan. Sudah pasti. Tapi apakah untuk mengetahui seks, saya mesti belajar filosofi seks? Saya tidak mau semakin pusing oleh filsafat seks. Manusia yang melakukan seks hanya demi dan untuk kepuasan hewaninya belaka adalah pengertian dari lethal sex, hanya itu yang saya tahu.

Saya langsung saja ke Sunan Kuning, salah satu bursa seks di kota Semarang. Namun, ketika saya tanya tentang seks, pelacur itu menjawab, Wah, saya tidak tahu Mas. Di sini saya cuma cari makan. Para customer lelaki pun menjawab secara kurang memuaskan, Saya belum pernah ketemu dengan seks, Mas. Saya mencarinya terus dengan cara bersenggama di sini hampir tiap hari. Saya hanya ketemu sama orgasme. Hanya ekstase. Kalau saya sudah ketemu seks, untuk apa terus-terusan begini?
Kemudian saya silaturahmi ke wisma skandal, di mana para pegawai pria dan wanita berseragam suka menyewa kamar satu atau dua jam. Saya juga memperoleh jawaban yang mengecewakan, Gini lho Mas. Kalau saya sedang sendiri, Saya sangat tergoda oleh seks. Tapi kalau sudah berdua atau berempat di kamar, paling jauh yang saya temui hanya diri
kami sendiri yang berubah menjadi kuda, sapi, beruang, atau monyet yang bergumul telanjang.
Selebihnya, perasaan berdosa yang kami simpan diam-diam.

Akhirnya saya pulang dengan putus asa. Saya katakan pada sesepuh, Jawaban mereka sangat konyol. Mereka bersenggama tapi ngaku tidak tahu seks. Lha apa beda bersenggama dengan seks?
Lho , sangat beda, kata sesepuh saya. Bersenggama itu sekedar alat atau tarekat mencari dan menemukan seks. Seks itu tinggi derajatnya dan derajat kesucian seks tidak mungkin kamu temui di tempat pelacuran.

Masih ruwet!! kata saya.

Karena kamu sukanya bersenggama, jadi salah paham tentang seks. Menyamakan persenggamaan dengan seks seperti menyamakan nasi dengan rasa kenyang. Kalau kamu sudah sampai pada kenyang, nasi tak terlalu diperlukan. Kalau kamu sudah bersemayam di dalam seks, persenggamaan tak terlalu dibutuhkan.

Kalau begitu, kata saya jengkel, biarlah saya tak pernah tiba pada seks !!!