Kamu,Lu atau You

Merupakan hal lumrah untuk maksud yang sama kita kadang menggunakan kata atau sebutan yang berbeda.  Contohnya, untuk kata ganti orang kedua bisa menggunakan kata Anda, Saudara, Kamu, Lu, atau dengan menyebutkan nama di belakang sebutan Pak/Bapak, Bu/Ibu, Saudara, atau sebutan lainnya.  Pilihan kata atau sebutan tersebut seringkali tergantung pada konteks komunitas lingkungan dimana komunikasi tersebut dilakukan.
Dalam konteks komunitas informal seperti pergaulan di kampus atau persahabatan orang dewasa di rumah, sekolah, bengkel, mall atau di tempat-tempat umum lainnya biasanya digunakan pilihan kata-kata pertemanan Kamu-Aku atau Lu-Gue. Dalam konteks komunitas yang bersifat formal seperti dalam acara rapat/pertemuan di kantor atau kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat  biasanya menggunakan kata Anda, Saudara, atau nama di belakang sebutan Pak/Bapak, Bu/Ibu, atau Saudara.
Terasa aneh ketika kata-kata yang biasa digunakan dalam konteks informal, misalnya kata “kamu”, kemudian digunakan dalam konteks  formal. Sekarang coba bayangkan seandainya kita mempunyai seorang atasan baru yang masih berusia muda dan mempunyai kebiasaan menyebut “kamu” kepada setiap stafnya, termasuk kepada mereka yang lebih tua, dalam forum pertemuan resmi di kantor. Pertanyaan yang mengusik saya, mengapa orang sering merasa bahwa harga diri dan martabatnya seakan direndahkan oleh ucapan “kamu” oleh sang atasan? Selain itu, mengapa sang atasan tetap mempertahankan kebiasaan tersebut meskipun dia tahu semua atau sebagian besar stafnya tidak menyukainya?
Pertama, sesuatu yang tidak biasa itu pasti akan menarik perhatian kita. Energi emosi akan berkumpul di satu titik. Ketika sesuatu itu merupakan hal yang menyenangkan maka manusia akan (melepas energi emosi dan) merasakan kesenangan yang luar biasa. Sebaliknya, ketika sesuatu itu merupakan hal yang menyakiti perasaan maka manusia pun cenderung akan merasakan kesedihan (kebencian?) yang luar biasa pula.  Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa ucapan “kamu” sebenarnya bisa mempunyai makna yang berbeda, tergantung pada intonasi suara dan bahasa tubuh yang diperlihatkan oleh orang yang mengucapkannya. Kita bisa dengan mudah membedakan makna ucapan “kamu” dalam kalimat “Nduk, kamu harus tetap tegar menghadapi cobaan hidup ini” yang diucapkan oleh seorang Bapak kepada anak perempuannya dan kalimat “Kamu harus ingat bahwa untuk masalah yang satu ini saya tidak pernah main-main” yang diucapkan oleh seorang atasan kepada stafnya.
Ada satu lagi yang perlu diperhatikan di sini. Hal yang membuat seseorang merasa harga dirinya direndahkan bukanlah semata-mata karena ucapan sang atasan, tapi juga karena tingkat sensitivitasnya untuk menerima ucapan tersebut.  Karena tingkat akseptabilitas terhadap kata “kamu” yang diucapkan oleh atasan bisa berbeda di antara para stafnya, maka sesungguhnya respon terhadap ucapan tersebut pun bisa berbeda. Bukan tidak mungkin sebagian di antara staf tadi menganggap sebutan “kamu” yang diucapkan oleh atasan tersebut sebagai “sesuatu yang tidak penting”.  Ucapan tersebut, menurut mereka, sama sekali tidak berpengaruh pada martabat dan harga diri mereka.
Pertanyaan berikutnya, mengapa atasan tadi tetap mempertahankan kebiasaan tersebut meskipun dia tahu semua atau sebagian besar stafnya tidak menyukainya? Kemungkinan pertama adalah dia menganggap kebiasaan tersebut merupakan gaya ekspresi yang dipilih sebagai identitasnya, tanpa diboncengi oleh niat atau kepentingan apapun. Setiap orang, menurutnya, berhak untuk memilih menggunakan kata ganti kedua manapun, termasuk “kamu” dan juga “you”, dalam berkomunikasi dengan orang lain.  Kemungkinan berikutnya, dengan menggunakan sebutan “kamu” kepada stafnya dia berharap si staf akan memperhatikan dan merespon sesuai dengan keinginannya.  Kata “kamu” di sini barangkali merupakan simbol ketegasan dan sikap straight forward, tanpa basa-basi, yang ingin diperlihatkannya.
Seorang atasan atau pemimpin yang biasa menggunakan sebutan “kamu” kepada stafnya dalam setiap acara pertemuan mungkin bermaksud baik, agar supaya pertemuan tersebut dapat berlangsung dalam suasana kekeluargaan atau kebersamaan tanpa ikatan yang terlalu formalistis.  Namun mereka yang merasa harga dirinya direndahkan seringkali menyebutnya sebagai seorang pemimpin yang otoriter. Sikapnya yang tegas dan straight forward seringkali diartikan sebagai sikap yang tidak penuh kehati-hatian dan terlalu menggampangkan.
Meskipun demikian, suatu saat nanti kita  akan merindukan kehadirannya.  Barangkali ketika sikap kehati-hatian dan basa-basi telah mengalami inflasi yang terlalu tinggi,,,