universite, je t’aime

Siang itu matahari seolah menghujani segenap makhluk dengan racun UV yang menjalar di permukaan kulit, di dalam ruang aula, berkumpulah sekitar dua puluh kodi mahasiswa baru suatu lembaga pendidikan tinggi yang gaung nama besarnya terdengar hampir di seluruh nusantara. Studium generale yang diselenggarakan untuk mengawali tahap-tahap khusus ritual penyambutan, sebuah kuliah umum perdana yang riuh ramai berisi mahasiswa cerdas terpilih. Para remaja yang energik ini diperlakukan dengan hangat, digiring, dibariskan, dimobilisir layaknya tur keliling kampus. Perhatian mereka memusat pada keasyikan diri masing-masing dalam takaran yang saat itu hampir tidak memikirkan objektivitas terhadap suatu apapun atau barangkali memang itulah target mobilisasi sesungguhnya.

Seorang pakar motivator, yang konon juga memiliki tingkat intelegensia tinggi didatangkan,dipersilahkan duduk di atas kursi seempuk kasur dan diperkenalkan profilnya. Para remaja itu tidak memperdulikannya, seperti juga mereka bersikap cuek terhadap angin yang tak kunjung datang menyapa mereka di dalam ruang aula.

Para mahasiswa cerdas terpilih yang hadir di depanmu, tidak dengan kewajiban memahami sesuatu melainkan dengan hak untuk dipahami.

Situasi berkelompok pun terbentuk tanpa mereka sadari seperti situasi sebuah mall dengan beragam tema hidup dan psikologi hura-hura. Mereka tidak perlu terhenti oleh formalitas studium generale atau bahkan pembacaan ayat-ayat ilmiah.

“Saya tidak akan berceramah kepada Adik-adik”, sang pakar memulai penampilannya dengan pandangan menyapu seluruh audiens di ruang aula tersebut. Ciri khas orang yang memahami ilmu publik speaking, berusaha mendapatkan aura yang tersisa. “Meskipun di siang yang menyengat ini pertemuan kita dikawal oleh lapisan kalimat tema yang sulit dipahami. Saya mengerti kalau Adik-adik semua tak suka hal yang muluk-muluk”.

Tampak sang pakar memulai rayuannya. Ia bukan saja bersiap menyesuaikan diri terhadap takaran suhu ruangan tapi bahkan mencoba berangkat dari alam pikiran mereka. “Ada kemungkinan saya makin tidak percaya dengan fenomena ceramah. Pertama, dari hidup ini hanya sedikit saja yang bisa Adik-adik pahami dan hayati lewat komunikasi informatif, sementara sebagian besar pemahaman hidup hanya mungkin Adik-adik peroleh dari penghayatan di kehidupan nyata. Saya tidak akan sanggup menjelaskan bahaya merokok meskipun dengan uraian satu desertasi doktor, sebelum Adik-adik sendiri tersiksa karena rokok. Kedua, berceramah itu egoistik. Bagaimana mungkin Adik-adik digiring susah payah ke ruangan ini untuk mendengarkan perkara yang mungkin tidak Adik-adik kehendaki. Bagaimana mungkin seorang penceramah tiba-tiba berkwek-kwek tanpa tahu siapa Adik-adik ini”.

Tapi para mahasiswa baru itu terus saja menghanyutkan diri dalam Studium Generale yang mereka kreasikan sendiri. Sang pakar mulai heran dengan para remaja di hadapannya, tak ia temukan itikad bahwa mereka tertarik tawaran demokrasi yang menurut sang pakar- sedemikian tinggi nilai rezekinya di tengah budaya komunikasi instruksional yang makin merajalela.

“Saudara-saudara!!” sang pakar meningkatkan nadanya dan mengganti sapaannya. “Saya ingin mencoba berangkat dari aspirasi Anda, dan sangat membatasi gairah saya sendiri. Marilah kita ngobrol sesantai mungkin”.

Juga tak ada yang berubah dari air muka para mahasiswa itu.

‘Siapakah Anda? Murid atau murad? Murid adalah orang yang menghendaki. Murad adalah orang yang dikehendaki. Siapa Anda siang ini di acara ini? Apakah Anda datang kesini karena menghendaki sesuatu yang mungkin bermanfaat bagi proses kuliah Anda nanti ataukah Anda sekedar hadir karena kehendak pihak yang mengatur Anda?”

Masih saja kosong wajah mereka.

“Tolong yang merasa murid, mengacungkan tangan!”

Seseorang mengacungkan tangan.

“Yang merasa murad?”

Tak seorang pun mengangkat tangannya.

“Jadi siapa Anda?”

Kosong. Tak sebersit pun sinar mata yang mengungkapkan sesuatu. Sementara di bagian belakang berlangsung terus Studium Generale yang tak bergeming suara berisiknya oleh tawaran apapun.

“Coba, Mas yang tadi mengacungkan tangan. Bersediakah Anda menolong forum ini dengan mengemukakan apa yang Anda kehendaki dari pertemuan kita pagi ini?”

Syukurlah dia menjawab, “Saya ingin menjelajah langit, karena langit adalah kitab yang terbentang”

“Luar biasa!!” sang pakar mulai melonjak.

Yang terdengar kemudian adalah suara berdecak-decak dari daerah belakang.

Sang pakar agak kagum..

Apa yang kira-kira mereka sukai dalam hidup ini? Kalau inisiatif kawan mereka sendiri tak berhak mereka hargai. Maka apa yang sebenarnya mereka kehendaki? Ketika wacana apatisme menggema abadi hampir di seluruh seantero kampus, sebenarnya siapa mengapatiskan siapa? Apa makna menjadi mahasiswa bagi anak-anak muda ini?

“Pada usia se-Anda ini,,,” sang pakar coba terus melanjutkan, “Dulu Prof. Koentjaraningrat melakukan riset terhadap kebudayaan dan mentalitas”.

Terdengar ck, ck, ck, ck lagi.

Tentulah para psikiater makin laris. Para dosen akan disambut oleh keadaan yang sanggup meningkatkan stress mereka. “Usia Anda-anda ini merupakan fase mencari, mata jelalatan ke kiri kanan untuk menemukan apa yang terbaik untuk dipilih. Bersyukurlah Anda sudah menemukan sebagian dari pilihan hidup Anda, yakni menuntut ilmu di kampus ini. Bisakah seseorang menjelaskan kenapa memilih studi di kampus ini, apa hubungannya dengan cita-cita pribadinya, dengan keluarganya, syukur kalo nyambung dengan keadaan negaranya? Siapa?”

Kali ini sang pakar sudah lebih siap untuk mendengar dan menerima kesunyian namun matanya tak bergeming dari rumput manusia di depannya. Ketika sekian lama tak seorang pun membuka mulut, sang pakar bagaikan meledak. “Jadi apa sebenarnya yang Anda kehendaki dari forum ini?!! Anda ingin saya melontarkan senapan kalimat dan Anda akan sibuk mencatatati sebagian serpihannya agar memperoleh sertifikat Studium Generale? Sertifikat yang konon menjadi syarat pintu masuk bagi Anda jika ingin turut meramaikan kampus ini?”

Wajah mereka tanpa ekspresi tapi mudah-mudahan bukan generasi tanpa ekspresi.

“Apa Anda ini kambing? pakar kita tampaknya mulai benar-benar kalah, Sepertinya Anda ini merupakan bagian dari massa mengambang!!”

Para mahasiswa itu tetap setia dengan kedamaian wajahnya. Tidak tersinggung. Tidak terhina. Tidak marah.

“Atau Anda ingin saya bersikap seperti Butet Kertaradjasa yang bijaksana tapi terkadang error?”

Agak kaget. Rupanya mereka pernah mendengar nama itu. Nama yang menjanjikan kelucuan dan tamparan sosial. Tapi apa yang membuat mereka sedikit tersentak? Tamparannya atau kelucuannya?

Kemudian sang pakar menirukan salah satu gaya Butet yang sebenarnya merupakan tiruan dari ciri khas salah satu mantan pemimpin negeri ini. Tertawalah para mahasiswa baru itu.

“Jadi apa maunya Anda-anda ini?”

Dan seperti situasi semula. Tak seorang pun menjawabnya.

“Apakah Anda generasi tanpa kehendak? Generasi tanpa aspirasi, tanpa integritas? Generasi yang kurang peka terhadap persoalan yang bersliweran di sekitarnya? Generasi yang bisa digiring seperti kumpulan kambing dan cuma bisa mengembik tanpa arti jelas?”

Suasana menjadi hening beberapa saat dan dalam keheningan itu, atau oleh keheningan itu, sang pakar menambahkan berondongan kalimatnya dengan sebutan baru yang ia ucapkan dalam batin.

Memang ini generasi tanpa imajinasi. Generasi yang wajahnya tidak berwajah

Tiba-tiba suaranya terdengar kembali, “Ataukah Anda sekedar kesulitan untuk mengatakan diri?”

Tiba-tiba pula tanpa diduga oleh sang pakar, terdengar jawaban serentak. “Yaaa!!! Ituu!!”

“Anda sulit mengespresikan diri?”

“Betuuuuul!!”

“Anda tidak bisa menyusun kalimat?”

Mereka tertawa.

“Anda tidak paham persis apa yang sedang Anda pikirkan? Anda tidak punya kerangka untuk menyusun pikiran yang melintas di kepala Anda secara semrawut?”

“Yaa!!”

“Anda tidak punya metode mengembangkan diri?”

Jawaban kali ini tidak serempak. Kalimat itu agaknya abstrak.

“Kenapa Adik-adik tak bisa mengekspresikan diri?”

Tampak sang pakar mulai turun dari klimaks dan kembali mengganti sapaannya.

“Kenapa?” Sang pakar bertanya lagi.

Diam.

“Apa atau siapa yang salah? Guru Adik-adik yang dulu? Orang tua adik-adik? Kurikulum? Politik .?”

“Yaaa!!” jawaban mereka amat kompak serentak.

“Kenapa politik?”

Seorang mahasiswa baru setengah berlari ke depan menuju tripod mic yang baru tersentuh satu kali.

“Kami heran dengan politik yang diceritakan oleh kakak-kakak kami yang lebih dahulu studi di sini. Politik yang diciptakan oleh kawan-kawan mereka sendiri. Tirani yang menyisakan ironi dan mungkin berlanjut di masa kami dan adik-adik kami nantinya. Unbreakable tirani”

Mendadak Diam lagi. Mereka seperti mendengar kalimat paling tabu di hidupnya.

“Jangan hanya bungkam!! Apalagi jika hanya menulis keluhan!!” Sang pakar seperti menyalakan api di siang hari.

Tiba-tiba para anak muda itu bertepuk tangan.

“Apa yang salah dengan politik?”

Diam.

“Bagaimana mereka akan menguasai Anda?”

Semakin diam.

“Apakah Anda pernah belajar politik? Apakah belajar politik berarti masuk fisipol? Padahal Anda tidak mengambil kelas fisipol. Bagaimana dengan senat yang akan memayungi Anda, apakah punya bidang humpol? Cukupkah itu?”

Diam yang makin menusuk.

Seolah mereka berada di kaki palung diam yang terdalam.

Diskusi akhirnya macet total. Sang pakar langsung keluar ruangan, menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam sambil bergumam.. “sejak dulu masih seperti itu”

Lantas aku pun tertawa parau mendengarkan Vito berbagi pengalamannya ketika mengikuti studium generale itu. Menatap Vito tak ubahnya melihat kamera pocket yang setia menemaniku. Dia anak baru di kampus ini. Ahh.. sudahlah, berulangkali aku mendengar cerita yang sama dari orang-orang yang berbeda. Setelah seharian menatap simbol-simbol komunikasi yang diciptakan oleh manusia, tak enak rasanya jika malamku yang penat ini semakin diperparah dengan cerita semacam itu. Hanya menambah kering kerongkongan dan ingin meneguk habis semua softdrink di kantin.

Langkahku pulang ke kos terasa berat padahal tubuhku ingin cepat mendarat di kasur. Kasur dari tempat tidur yang rawan ambruk. Si Belang, kucing yang baru dua tahun kupelihara tampak tidur di depan kamar. Ketika terdengar suara anak kunci berhasil membuka daun pintu, si Belang langsung bangun dan seperti biasa mendahuluiku masuk kamar.

Badanku kembali segar, mungkin saat mandi tadi semua kepenatan di kepalaku luntur bersama semua daki yang menjajahku. Semoga saja materi kuliah yang kudapat sejak pagi tidak ikut luntur di kamar mandi atau malah sudah rontok duluan di jalan.

‘pus..pus..pus..’ seorang teman kosku setengah berteriak memanggil si Belang. Tulang-tulang ayam yang tidak habis digerogotinya dilempar ke si Belang. Gamelan Sunda Bali yang kusetel untuk meninabobokanku ternyata masih ampuh juga, tapi kemudian tiba-tiba, kriing..kriingg.. nada jadul ponselku bunyi. Sial, ganggu orang mau tidur pikirku. Kuangkat panggilan tadi dengan enggan. Nomer tak terdaftar, “Hallo..siapa?” tanyaku.

“Vito Corleone, kuberi Kau tawaran yang tidak bisa kau tolak, pinjamkan kameramu atau si Belang kuculik?!!”

ternyata Vito, bandar simcard, yang gemar meng-quote kalimat dari film The Godfather. “Ko tadi di kampus tidak bilang sekalian?? Buruan ambil !! ” jawabku.

Awal aku mengenalnya juga dari transaksi gratis pinjam kamera. Belakangan aku baru sadar kalau dia lebih sering jalan bareng dengan Kamera Pocket-ku daripada aku si pemilik sebenarnya. Dulu pernah di pagi buta dia ketuk pintu kamarku, ingin rasanya kuhantam pintu kamar ke wajahnya. “Pinjam kamera mas, buat pemira” , segera kuambil kamera dan kuberikan padanya supaya dia lekas pergi,

“Makasi mas, jangan lupa nyoblos, dapet stiker loh..”

“liat aja besok..” ujarku singkat.

Sebenarnya aku ingin belajar bagaimana mampu ngomong TIDAK. TIDAK yang biasa-biasa aja deh,,Nggak usah yang pakai tanda seru atau tanda pentung. Buat apa aku nyeru-nyeru atau mentung-mentung. Toh aku tidak semahir satpam yang sering nyeru-nyeru dan mentung-mentung kalau bertemu maling. Ngomong TIDAK itu kelihatannya gampang, tapi walah!! Bisa-bisa aku dikucilkan. Entah karena dikemplang entah dibilang tidak peduli dengan kehidupan kampus. Apalagi di musim pemilihan calon pimpinan senat saat itu, padahal kalau mau buka mata dan buka hati, sebenarnya ada beberapa cara menghasilkan sosok pemimpin. Ada yang model bai’at, pemimpin yang lama menunjuk penggantinya atau cara yang paling rusuh dengan kudeta dan mungkin masih ada lagi model lainnya. Kalau berkata TIDAK kepada salah satu model, apa ya salah? Kan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing individu walaupun dikasih iming-iming es krim satu drum, yang namanya pendirian tu sulit di debat kecuali dengan pendirian si pendebat sendiri. Masih banyak lagi lho yang harus aku TIDAK-in.

Misalnya ada yang bilang kaki ayam itu dua dan kakiku juga dua, maka ayam sama dengan aku atau aku yang sama dengan ayam. Enggak lucu ya? Tapi semua tahu, karena ayam itu kecil dan aku ini besar, maka ayam kumakan. Contoh lain seperti bintang kecil menghias angkasa. Tapi aku tidak mungkin makan bintang. Ngomong TIDAK kan sulit. Memang ada TIDAK yang tanpa kata TIDAK. Misalnya dengan cukup diam atau tidak mengerjakan perintah seperti diajarkan Mahatma Gandhi. Ada TIDAK yang nampak seperti YA. Sementara YA kelihatan seperti TIDAK. YA seakan-akan TIDAK, TIDAK seolah-olah YA.

Ada YA yang keTIDAK-TIDAKan, ada TIDAK yang keIYA-IYAan.

Orang YA disuruh bilang TIDAK, orang TIDAK dipaksa bilang YA. Siluman paksaan yang bisa menjelma selembut sutera. YA menjadi buto ijo, menekan ibu keongmas yang ingin bilang TIDAK malah nyeplos YA.

 Rupanya waktu itu susah juga menentukan pilihanku siapa yang cocok jadi pemimpin di kalangan mahasiwa kampus ini. Syarat berkeTuhanan yang maha Esa sudah jelas. Di lain itu sebaiknya untuk alam hidup kampus, yang berbudi luhur, jujur dan suka memberi. Memberi itu tidak cuma dalam bentuk uang receh, tapi juga memberi sapaan, memberi jendela supaya tidak menutup dri dari masukan di luar golongannya, memberi pelayanan terbaik buat seluruh civitas academica. Pelayanan yang tidak hanya dalam bentuk acara-acara formal. supaya tidak timbul kesan kalau kampus ini kampusnya mahasiswa EO event organizer, yang kesuksesannya hanya dinilai dari seberapa banyak acara yang dibuat.

 Kurang mengenal konsep keinginan dan kebutuhan.

 Diantara sekian banyak mahasiswa, tak sedikit yang relatif memenuhi syarat itu. Namun ada syarat alamiah yang menggusur kemampuan mereka yakni bahwa calon hanya mungkin orang yang terpandang, membuat orang memandanginya. Ada lagi syarat yang berbobot, peminat : peminat mestilah memiliki orang-orang yang bersedia membantu permodalannya dan golongan pendukungnya sudah jelas. Syarat ini justru bisa mengaburkan syarat pertama: berbudi luhur dan jujur. Jika salah satu terpilih, apakah ada jaminan kalau dia lebih bagus dari pemimpin sebelumnya?

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa menghasilkan penerus yang minimal setara dengan dirinya.

Suatu perkara yang semakin meracuni pikiranku, karena begitu kecilnya ruang lingkup kampus sehingga segala sesuatu menjadi begitu realistis dan telanjang di setiap kemungkinannya. Agak lebih gamblang mungkin bila memilih Barrack Obama dan Hillary Clinton sesudah meneliti lika-liku karir mereka,mendengar perdebatan mereka serta menimbang persaingan kualitatifnya. Hanya perlu suatu kejelasan pilihan yang terbaik menurut suatu ide dan mimpi. Di kampus yang kecil ini demikian susah untuk memiliki yang terbaik.

Adakah para mahasiswa menginginkan sesuatu yang terlalu tinggi? Banyak yang menghendaki pemimpinnya mampu bekerja dengan terampil, kreatif, ekonomis, efisien- ada juga embel-embel untuk jadi agen perubahan. Pada hakikatnya mimpiku sederhana dan universal, semua kehendak tadi tak lain adalah perwatakan dasar dan cara yang lebih efektif untuk menggapai mimpi itu.

Semuanya sederhana dan minimal_persis seperti yang dihidupi dan didambakan oleh para mahasiwa di kampus ini. Sifat yang tetap bersemayam dalam batin namun tiba-tiba terasa begitu sukar untuk menemukan keberadaannya. Para mahasiswa semakin kurang terlibat maupun melibatkan diri untuk memperbincangkan siapa yang pantas memimpin mereka.

Tampak bagiku bahwa pemilihan pemimpin senat tak lebih dari sebuah upacara kecil yang tidak terlalu bersangkutan dengan kompleksitas kehidupan sebagai mahasiswa. Tentulah ini bukan problem khas mahasiswa zaman sekarang.

Ungkapan kuno mengatakan hal yang sama. Dicari: Manusia . Bukan sistem kebijaksanaan, bukan kepercayaan dengan mata melotot. Bukan kekuatan dengan senyum ramah, bukan juga ungkapan “Dicari: Manusia…”

Aku jadi teringat kalimat Plato, kurang lebih begini:

Dalam kehidupan nantinya, setiap manusia akan terjebak dalam sebuah gua gelap yang berisi keteraturan kemapanan, dan mereka senang berada di dalamnya. Karena mereka terbuai dengan segala kesenangan di sana dengan apa yang telah mereka capai, hingga akhirnya mereka takut keluar dari gua tersebut. Mereka memang bahagia, tetapi diri mereka kosong dan mereka tidak pernah menemukan siapa diri mereka sebenarnya mereka tidak punya mimpi.

Kehidupan elemen kampus yang adem ayem tampaknya menjadi sebuah indikator bahwa kita akan mengarah kepada sebuah kemapanan yang dikelilingi mimpi-mimpi kosong. STAGNAN. Mungkin inilah yang menggelitik sebagian rekan-rekan mahasiswa yang mungkin suatu saat nanti akan mendirikan semacam dewan oposisi, sebuah pijakan awal yang diharapkan mampu mewarnai cara pandang mahasiswa supaya berani keluar dalam gua kemapanan dan tidak hanya puas dengan cukup melihat bayang-bayang mereka sendiri yang menjebak dan terjebak bersama jiwa raga mereka.

Ketika banyak di antara rekan-rekan mahasiswa yang membawa bendera demokrasi dalam mengelola organisasinya dan di saat yang sama kemudian muncul berbagai penafsiran egoistik tentang makna demokrasi. Lalu bagaimana jika seandainya almarhum Winston Churchill bangkit dari kuburnya dan ikut nimbrung di tengah-tengah kita. Seolah menjadi tamu agung dalam sebuah kekisruhan dalam memaknai demokrasi. Beliau pernah berujar bahwa Demokrasi adalah bentuk pemerintahan terburuk dengan perkecualian semua bentuk pemerintahan yang pernah ada.

Namun sekali lagi, demokrasi telah menjadi bubur dan terlanjur kita makan serta menjalar di sebagian besar urat nadi kehidupan elemen kampus ini. Berdasarkan teori, demokrasi merupakan bentuk pengambilan keputusan dimana setiap orang yang terlibat memiliki hak dan kemungkinan untuk berpartisipasi, Aturan demokrasi lebih berdasarkan pada pembagian kekuasaan daripada ketundukan/kepatuhan atau dengan kata lain, setiap orang memiliki sedikit kekuasaan. Beberapa elemen kunci demokrasi di antaranya Pemilihan Umum, Aturan Hukum, Pembagian Kekuasaan Legislatif Eksekutif dan Oposisi, Pluralisme, Kebebasan Media, Budaya Politik yang demokratis.

Implementasinya yang ideal dalam kehidupan makro kemahasiswaan di kampus ini adalah legislatif (BLM) sebagai perwakilan mahasiswa. membuat peraturan, mengontrol eksekutif (BEM) dan memberikan dorongan penting bagi pelaksanaan aspirasi mahasiswa. Sementara tugas eksekutif (BEM) adalah menjamin pelaksanaannya.

Prakteknya?? Silahkan rekan-rekan yang menilai icon smile universite, je taime

Mungkin kita membutuhkan sebuah oposisi

Tentunya terdapat kerja sama yang dekat antara mayoritas pengurus legislatif dan eksekutif. Pada umumnya, mereka merupakan golongan yang sepaham dalam menjalankan sebuah amanah. Oposisi memilih menentang kedua kekuatan ini. Oposanlah yang pada dasarnya mengontrol eksekutif. Oleh karena itu sangat penting bahkan bagi kelompok minoritas dalam legislatif untuk memiliki hak kontrol sendiri.

Demokrasi yang kuat membutuhkan oposisi yang kuat!!

Untuk kontrol yang efektif dibutuhkan waktu bicara yang cukup dalam diskusi menyusun master plan sebuah kepengurusan, hak untuk memaksa eksekutif menjawab pertanyaan publik, hak untuk membentuk tim investigasi jika terdapat anggota legislatif maupun eksekutif yang dicurigai tidak amanah. Hanya oposisi dengan hak-hak yang cukup yang dapat bertindak sebagai kontrol yang efektif terhadap eksekutif. karena pada hakikatnya oposisi merupakan penyeimbang yang berasal dari luar sistem.

Melalui kinerja oposisi di dalam kehidupan elemen kampus, kita bisa meraih berbagai pihak yang memiliki cara pandang yang berbeda. Contohnya adalah pihak-pihak yang berpandangan optimis ataupun pesimis. Kehidupan organisasi kemahasiswaan tidak dapat bertahan tanpa suatu eksekutif dan administrasi terkait yang mengimplementasikan peraturan yang telah disepakati bersama. Hal ini dapat diterapkan untuk semua elemen kampus, tidak hanya untuk BEM dan BLM sebagai payung besar mahasiswa.

Oposisi mengkritisi eksekutif, mengawasi semua yang dilakukannya, dan mencoba mempresentasikan berbagai alternatif yang lebih baik bagi para mahasiswa. Kerja oposisi menuntut adanya komunikasi yang terus menurus dengan lingkungan sekitar dan bukan hanya dari golongan oposisi itu sendiri. Pembicaraan ini berguna untuk dapat mengetahui permasalahan yang ada atau timbul di kalangan mahasiswa, menawarkan solusi terhadap permasalahan tersebut dan pada akhirnya menjalankan proses-proses kehidupan kemahasiswaan.

Semoga jika nantinya memang muncul sebuah kekuatan oposisi dia  mampu melaksanakan fungsi sebagai oposisi yang cerdas, bijak dan mampu bersikap objektif, tidak hanya mencari tumbal kesalahan dari golongan tertentu. Membawa manfaat besar bagi keberlangsungan bagi BEM Ekstensi FEUI meskipun dengan cara penyampaian yang pahit. Tugas sebagai pihak oposisi sangatlah berat dan diharapkan oposisi tidak seperti petir yang menyambar dengan kencang kemudian hanya sekejap menghilang, kembali dalam gulungan awan kelabu. Karena,, oposisi itu sendiri bukanlah merupakan suatu tujuan.

Satu tahun kepengurusan BEM Ekstensi FEUI sudah berakhir namun tetap menyisakan satu pertanyaan mendasar Sejauh mana keberhasilan Kepengurusan 2011/2012 dalam menjalankan amanatnya? .

Menilai keberhasilan Kepengurusan yang memiliki berbagai fungsi tentunya tidak bisa hanya dari satu sisi saja, misalkan keterlaksanaan program kerja. Menilai kinerja Kepengurusan idealnya melibatkan penilaian atas budaya, interaksi, internalisasi nilai serta segala proses yang terkait dengan pelaksanaan program kerja.

Walaupun belum membaca Executive summary BEM Ekstensi FEUI yang seharusnya bisa menjadi pengantar proses dialektika penilaian kinerja Kepengurusan demi sebuah pertanggungjawaban serta diharapkan menjadi bekal Kepengurusan selanjutnya untuk melangkah.

Kita tentunya merasa bahwa BEM Ekstensi FEUI berangkat dari kondisi keluarga mahasiswa yang jauh dari ideal.

Pertama, Kepercayaan publik mahasiswa terhadap kemahasiswaan secara terpusat masih minim. Kedua, sebagai sebuah Keluarga mahasiswa namun belum siap menghadapi pola sistem Keluarga Besar Mahasiswa UI yang sangat mempengaruhi keberlangsungan organisasi dan pola kaderisasi. Ketiga, hubungan Pengurus dengan Mahasiswa secara keseluruhan yang masih terdapat gap. Keempat, belum menemukan model ideal untuk sinergisasi seluruh potensi dan elemen Keluarga Mahasiswa. Kelima, masih kental ego sektoral antar jurusan.

Kita juga berangkat dari beberapa asumsi terkait analisis makro Keluarga Mahasiswa Ekstensi FEUI. Pertama, Tingkat aktivitas mahasiswa dalam organisasi mahasiswa secara umum menurun. Kedua, lunturnya budaya akademik yang tercermin dari menurunnya budaya saling berwacana dan budaya diskusi kecuali hanya untuk tugas kuliah. Ketiga, heterogenitas mahasiswa Ekstensi FEUI tidak hanya dari asal daerah dan suku melainkan interest terhadap kegiatan dan karakter serta pola pikir yang sangat beragam mengingat banyaknya mahasiswa yang juga telah bekerja dan berkeluarga. Tetap ada keyakinan bahwa BEM Ekstensi FEUI tidak berangkat hanya dari keluh kesah atas masalah masalah yang ada, namun juga berangkat dengan keyakinan bahwa mahasiswa Ekstensi FEUI menyimpan berbagai ragam potensi besar yang memberi tantangan tersendiri bagi BEM untuk mengangkat dan mengoptimalkanya. Potensi-potensi tersebut berserakan pada individu mahasiswa dan bahkan potensi pemikiran akan karya keakademisan.

Semoga kepengurusan selanjutnya dari BEM Ekstensi FEUI tidak akan berhenti memimpin usaha reorientasi untuk menghadapi perubahan system dan kultur di dalam serta luar kampus. Berterima kasihlah untuk semua rekan seperjuanganmu, untuk semua sahabatmu. untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater.

Hampir pukul 4 pagi, si Belang kulihat lelap sekali tidur beralas tas coklatku yang mulai lusuh. Kenapa mataku tak juga terpejam,,terganjal oleh asteroid-asteroid pikiranku sendiri, berhamburan menambah kepenatanku. Cahaya bulan masih saja menusukku dengan ribuan permasalahan. Bagaimana jika Vito nanti mampu melihat kumpulan asteroidku?.

Aku hanya bisa berkata: Kita mungkin begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta, cinta kepada kampus ini dan cinta kepada asa untuk menjadi generasi yang wajahnya memiliki ekspresi . Aku bukan seonggok motor tua yang melaju bebas tanpa rem dan menghancurkan siapapun yang ditimpanya, namun hanyalah sebagai Life observer yang tak berbekal teropong.

Mungkin esok pagi aku bisa tersenyum sedu karena terbangun dari tidur dan kemudian secara ajaib memilki rasa cuek terhadap hal-hal semacam ini seperti halnya sikapku yang cuek terhadap matahari si pemberi kehidupan ataukah matahari sesungguhnya ingin berkata “jangan cuek terhadap kehidupan yang diberikan?”

Disajikan ulang tanpa intisari, dari pelbagai sumber…