Fenomena “The Middle Class” di Indonesia

Dalam beberapa dekade belakangan ini, munculnya fenomena “kelas menengah” atau “The Middle Class” di negara-negara khususnya di Asia dan sekitarnya menjadi salah satu objek analisis yang merepotkan banyak ahli ekonomi, termasuk Indonesia. Namun, dapat dipahami bahwa hingga saat ini bmemang belum ada satu definisi pasti mengenai batasan yang dimaksud dengan Kelas Menengah tersebut.

Siapa yang dimaksud dengan Kelas menengah? Beberapa pendapat mengenai Kelas Menengah dapat dilihat di bawah ini, yaitu :

(i) Anthony Giddens, misalnya, menyebut kelas menengah sebagai mereka yang karena pendidikan dan kualifikasi teknisnya dapat menjual tenaga serta pikirannya untuk mencari penghidupan yang hasilnya secara materi dan budaya jauh di atas buruh (Sociology, 2001);

(ii) Majalah The Economist member batasan bahwa membatasi kelas menengah sebagai kelas yang menghabiskan paling tidak sepertiga dari total pendapatan dikurangi biaya makan dan perumahan untuk keperluan tersier;

(iii) ADB (Asia Development Bank) memberikan batasan yang dimaksud Kelas Menengah adalah masyarakat yang pengeluaran US$ 2-20 per hari.

Berdasarkan penjabaran di atas, apabila kita mengacu kepada batasan dari ADB (Asia Development Bank), maka kelas menengah Indonesia telah menggapai 134 juta jiwa, jumlah yang sangat banyak bukan…

Lalu pertanyaan terbesar kemudian ialah apakah “The Middle Class” ini benar-benar memberikan kontribusi kepada negara (Indonesia) ?

Pendapat pertama, berpendapat bahwa munculnya kelas menengah ini akan memberikan kontribusi terhadap negara diukur dengan meningkatnya gaji, sehingga sistem perputaran

uang di pasar juga meningkat. Kedua, sebagian justru menganggap daya beli masyarakat juga meningkat sehingga dapat memberikan pertumbuhan ekonomi yang positif terhadap negara.

Dalam kenyataannya, Pertama, kelas menengah ternyata merupakan golongan masyarakat yang belum memiliki kesadaran tinggi untuk membayar pajak sehingga pendapatan negara pun tidak mengalami pertumbuhan meskipun penduduknya telah mengalami kenaikan pendapatan, (data pajak 2011-2012). Analogi lain, seharusnya ketika gaji rata-rata penduduk naik (GDP naik), seharusnya perputaran modal bisa terjadi misalnya dengan cara membuka lapangan pekerjaan baru atau berwiraswasta. Namun sayangnya, kelas menengah di Indonesia lebih cenderung menggunakan pendapatannya hanya untuk life style sehingga tidak tercipta suatu kreativitas ataupun inovasi baru (nyatanya jumlah pengangguran tetap banyak). Kedua, terlihat bahwa sebagian besar dari proses transaksi besar-besaran yang dilakukan oleh kalangan kelas menengah hampir 80%nya dilakukan dengan pembayaran secara kredit (Bantuan transaksi secara kredit inilah yang membuat kelas menengah memiliki daya beli yang cenderung meningkat dari hari ke hari). Terkait pembiayaan dengan kredit, masih lekat diingatan kita mengenai krisis yang melanda AS (Subprime Mortgage) atas jatuhnya Lehman Brothers, dimana bangkrutnya perusahaan ini juga diawali dengan disediakannya KPR dengan bunga yang rendah, tapi pada akhirnya para debitur tidak mampu melunasi tagihannya. Ketiga, kelas menengah di Indonesia cenderung tidak memiliki bargain, mengapa? Karena sebagian dari mereka cenderung bersikap apolitis, artinya mereka senang berkomentar atau berpendapat hanya sejauh social media (facebook/twitter) sehingga setiap pendapat ataupun argumen-argumen mereka tidak memberikan dampak apapun terhadap kebijakan publik misalnya.

Pada akhirnya, menurut hemat saya, berdasarkan paparan diatas dan berdasarkan survey yang dilakukan, sampai saat ini The Middle Class belum memberikan kontribusi yang maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi negara. Mungkin mereka baru akan bisa disebut memberikan perubahan jika mereka sudah mulai bisa berfikir maju / kreatif (seperti di negara Asia lainnya) dengan memaksimalkan modal yang mereka miliki saat ini untuk hal yang lebih bermanfaat dan lebih konkret terhadap sekitar.

Kata kunci pencarian:

indonesia negara gagal fakta atau fenomena, middle class indonesia, middle class indonesia world bank