2 tahun yang sangat berharga di PE FEUI

Sedikit catatan untuk 2 tahun yang sangat berharga di PE FEUI

Ditulis oleh: Adelia Surya Pratiwi

Akhirnya, 2 tahun perjuangan penuh dengan darah dan penghabisan ini terlewati juga. Tidak ada perasaan lain selain bangga yang saya rasakan saat ini dengan telah resminya saya menjadi bagian dari fakultas terbaik di negeri ini. Selamat! Selamat untuk kita semua yang baru saja lulus! With or without honors, this is something to be proud of!

2 tahun berkejaran dengan waktu

Tidak berlebihan sepertinya untuk mengatakan bahwa kuliah di PEFEUI sangat berat. Dengan berbagai kesibukan khas mahasiswa ekstensi seperti berangkat pagi untuk bekerja, pulang sore hari –bahkan malam ketika sedang lembur–, berkelahi dengan jalanan yang kental dengan suasana afterwork: macet, kemudian tepat jam 7 malam harus sudah berada di kelas dalam keadaan siap menerima pelajaran.

Semuanya tampak ya-sudah-jalani-saja sampai datang berbagai tugas dari dosen untuk membuat makalah, menyiapkan presentasi, dan berbagai tugas individu. Fuh, penuh tekanan mungkin kata yang tepat ketika kita berada di saat-saat semacam itu, saat-saat dimana 24 jam sehari terasa jauh dari kata cukup. Berlebihan? tidak, bahkan beberapa rekan kuliah saya memutuskan untuk cuti atau berhenti sama sekali dari pekerjaannya untuk fokus kuliah.

Pada akhirnya saya sampai di titik ini, dengan segenap usaha untuk tidak acuh terhadap keluhan-keluhan tidak produktif yang ada, dan semangat itu sendiri untuk berada di titik ini. Tidak hanya saya, tetapi juga alumni PEFEUI lainnya, cukup dengan melihat kesuksesan yang mereka peroleh membuat saya tetap termotivasi hingga akhir, meskipun kadarnya tidak terlalu konstan. Rasanya saya sangat bangga dengan kalian dan yang saya pikirkan dalam 2 tahun hanya itu saja, lulus dari UI, lalu mulai menyusun kembali masa depan.

Klise, tetapi sesuatu yang indah hanya akan muncul pada saatnya saja. Kalau tidak pada saatnya, yang kita rasakan memang hanya seputaran lelah, lelah, dan lelah. Setelahnya mudah ditebak, yang tersisa dari tubuh kita yang sudah menyatakan dirinya lelah adalah malas. Ujung-ujungnya adalah standar yang semakin lama semakin turun. One thing we should keep in mind, semangat belajar sewajarnya tidak mengikuti aturan law of diminishing return, dimana semangat pada awalnya akan naik seiring tantangan yang ada, bahkan kenaikannya tidak linear dan cenderung ekstrim, tetapi sampai pada satu titik, semangat itu akan turun dan tidak akan pernah naik lagi.

Saya suka perbedaan!

Satu lagi hal yang saya anggap menarik ketika berkuliah di sini adalah networkingnya. Adalah suatu hal yang luar biasa bagi saya, bisa berkuliah dengan orang-orang penting (maaf untuk istilah ini, tetapi menurut saya istilah ini sangat tepat); para future leaders yang datang dari bermacam-macam background, mulai dari banker, pegawai negeri, teknisi, sekretaris, apoteker, dunia hiburan, sampai dengan direktur sebuah perusahaan juga ada di sini, berkuliah bersama-sama saya. Bisa dibayangkan, betapa banyak dan kayanya yang kita peroleh apabila kita memanfaatkan kesempatan ini untuk mengeksplor.

Berbicara mengenai motif, saya juga menikmati beraneka ragamnya motif mahasiswa di sini untuk kuliah, mulai dari yang sekedar ingin ‘upgrade ijazah’, yang sekedar ingin mengisi waktu karena bosan dengan kegiatan sehari-harinya yang hanya bekerja dan bekerja, sampai dengan yang sangat bersungguh-sungguh. Bahkan ada yang masih memiliki semangat untuk berorganisasi seperti saya! Hahaha. Tidak ada yang baik atau buruk, karena yah, kita sudah membayar senilai 8 juta per semesternya, no one would dare to tell us about motives. Yang terpenting bagi saya hanya tanggung jawab kita kepada diri kita dan apa yang akan kita peroleh di akhir nanti.

Pengalaman Skripsi dan Sidang

Ini adalah bagian yang saya tunggu-tunggu dari testimonial ini. Tentang skripsi dan eksekusinya. Kalau boleh berpendapat, skripsi sebenarnya hanyalah sebuah polesan kuas akhir dari kanvas yang sudah kita isi penuh dengan ‘coretan kuas’. Polesan ini selalu sulit untuk ditorehkan, karena akan menentukan seperti apa visualisasi lukisan ini nantinya. salah membubuhkan warna atau menggunakan kuas bisa spoiling lukisan secara keseluruhan. berbekal kecemasan akan gagalnya lukisan ini nantinya, membuat perjalanan menuju terselesaikannya skripsi menjadi sangat berat. kita harus kesana kemari untuk membeli warna cat dan kuas yang sesuai, kita mengorbankan waktu, tenaga, dan apapun agar kuas ini dapat memoleskan sesuatu yang pas dalam lukisan ini. Dan voila! Saya pasrah dan mulai berpikir ‘kenapa tidak tinggal torehkan saja dan lihat apa yang terjadi nanti’. Hasilnya? Saya menyesal luar biasa.

Versi saya, penyusunan skripsi yang efektifnya hanya menghabiskan waktu 2 minggu ini berakhir super terburu-buru. Format belum rapi, konsep terlalu rumit, dan pekerjaan tidak henti-hentinya datang. Excuse berdatangan, tetapi dengan segenap daya, akhirnya saya berhasil menepisnya. Waktu-waktu yang sakral ini saya manfaatkan untuk merapikan format yang sejujurnya tidak sulit, tetapi cukup memakan waktu, karena format adalah tentang membuat alur dari riset kita streamlined dari awal hingga akhir. Kenapa format? Karena ternyata menurut pengakuan dosen pembimbing saya, format menduduki hal yang sama pentingnya dengan substansi riset. Ada kasus dimana salah seorang mahasiswa memperoleh nilai A- padahal sebenarnya layak untuk diberi nilai A secara substansi, hal ini disebabkan oleh gagalnya mahasiswa tersebut untuk menyajikan skripsi yang baik secara format. Mau tidak mau dengan begitu, kita harus menghargai segala aspek dari skripsi kita, karena sebenarnya setiap hal kecil yang mencuri perhatian,akan menjadi nilai tambah.

Di luar 2 minggu efektif tersebut, kita masih harus disibukkan dengan jadwal ronda keliling salemba-depok-salemba-rumah dosen-kantor yang menguras banyak waktu, tenaga, bahkan uang. Di saat-saat seperti ini lah perasaan ‘saya menyerah saja lah’ terus diperdengarkan entah oleh siapa di telinga kita. Mental terlemah kita adalah di saat-saat ini, jangankan pikiran sendiri, bahkan jadwal kereta, kondisi jalan, dosen, semuanya seperti kurang bersahabat dengan kita. Tetapi sebenarnya, ketika kita menganggapnya sebagai challenge, maka segalanya akan menjadi lebih mudah, meskipun nyatanya sulit untuk beranggapan seperti itu.

Akhirnya waktu sidang tiba, saya baru mengetahui jadwal sidang saya H-1 sebelum saya sidang. yang saya rasakan hanya panik ketika itu. saya menerima jadwal malam hari, dan esok hari saya harus berkeliling ke rumah dosen-dosen penguji saya yang berlokasi semuanya jauh dan tidak satu arah. Belum lagi di hari yang sama saya harus menyempurnakan skripsi saya yang masih jauh dari sempurna, menyerahkan draftnya kepada penguji, dan membuat presentasi serta belajar pada malam harinya. When you reach this point, just close your mouth and keep going!

sidang untuk saya –setelah mengalaminya sendiri tentunya– tidak lebih dari sebuah ajang pertanggungjawaban. Bertanggungjawab terhadap sederetan kata-kata pada bab V skripsi kita. Ketika kita yakin kita mengerti dan mampu mempertanggungjawabkannya secara teori dan orisinalitas isi, semuanya akan lancar. Cerita-cerita horror seperti dimaki dosen, direvisi model utamanya, dan lain-lain hanya atribut, karena memang ruang sidang adalah ruangan kedap mental. Serius!

Mendengar cerita teman-teman, saya hanya bisa mendengarkan dan tersenyum, karena rasanya kelelahan saya menutup sempurna keagresifan saya untuk mengeksplor. alhasil, saya pasif, tidak terlalu banyak persiapan, dan hasil dari sebuah disagresivitas? bisa ditebak, without luck, it left nothing but baaaad, bad result. Untuk kalian yang belum sampai di titik ini, please, persiapkan segala sesuatunya, sebelum kalian menyesal nantinya.

Well, semuanya udah berlalu! Now raise your glass!

Semua keluh kesah yang ada, pengorbanan-pengorbanan besar maupun kecil, tampak sedikit demi sedikit terlupakan seiring semakin dekatnya hari H yudisium dan wisuda. Rasa bangga mulai didampingi dengan rasa yang lain, yaitu haru. haru mengingat hari-hari ketika kita masih kuliah; malam-malam (yang hampir pagi sebenarnya) rapat BEM di ‘warung-warung’ 24 jam, pulang kerja yang masih bersemangat karena punya kehidupan lain di tempat kuliah, lembur skripsi berjamaah di kantor, dan banyak lagi Teman-teman baik dan luar biasa yang saya dapatkan selama kuliah di sini, baik di kelas maupun di BEM, dosen-dosen yang tidak diragukan lagi kompetensinya, benar-benar membawa saya pada klimaks akademik dan personal sejauh usia saya ini. IPK memang jauh dari penting, hanya segelintir angka yang merupakan judgement atas kemampuan akademis kita, tapi jujur, ada sebuah kepuasan tersendiri ketika usaha sudah dilaksanakan dan berbuah manis. Percaya?

***

tapi fasenya sudah datang, waktu-waktu indah yang dikatakan hanya muncul ‘pada waktunya’ tadi sudah di depan pintu dan mulai sibuk memencet bel. Saatnya menjemput pundi-pundi mimpi yang sempat disterilisasi menjadi tujuan-tujuan jangka pendek. Saya yakin 2 tahun tidak membuat kita lupa dengan mimpi. Mari, susun kembali mimpi; S2, meniti karir, hidup bahagia, ah, segalanya tampak sedekat membuka pintu ruang tamu rumah kita sendiri!

dan seperti yang pernah saya kutip dari Amazon.com, sebuah logo yang menurut saya akan menjadi hits sampai kapanpun: “work hard, have fun, and make history.”

now, our hard work is already paid off, time to have fun and make history!