Perlukah Revitalisasi Bulog Dilakukan?

Kebutuhan pangan menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Mengapa demikian? Karena pemenuhan kebutuhan pangan merupakan salah satu hak asasi manusia yang harus terpenuhi, seperti tercantum dalam Universal Declaration of Human Right (1948) dan The International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (1966) yang menyebutkan bahwa “everyone should have an adequate standard of living, including adequate food, cloothing, and housing and that the fundamental right to freedom from hunger and malnutrition”. Selain itu, Millenium Development Goals (MDGs) juga menegaskan bahwa tahun 2015 setiap negara termasukIndonesia sepakat untuk menurunkan angka kemiskinan dan kelaparan ekstrim. Memperbincangkan masalah pangan tidak dapat dipisahkan dari masalah harga pangan sebagai salah satu aspek yang mencerminkan ketersediaan atau produksi pangan.

Indonesia memiliki sebuah badan yang diharapkan dapat menjadi stabilitator harga komoditi pangan nasional agar tetap stabil, Badan Urusan Logistik atau sering disingkat dengan Bulog pada awalnya merupakan perusahaan umum milik negara yang bergerak di bidang logistik pangan. Sebagai perusahaan yang tetap mengemban tugas publik dari pemerintah, Bulog tetap melakukan kegiatan menjaga Harga Dasar Pembelian untuk gabah, stabilisasi harga khususnya harga pokok, menyalurkan beras untuk orang miskin (Raskin) dan pengelolaan stok pangan. Saat ini, seperti diketahui Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) hanya bisa melakukan stabilisasi harga beras dan tidak bisa untuk komoditas pangan lain seperti kedelai yang harganya melambung belakangan ini. Hal tersebut bermula semenjak IMF (International Monetary Fund) menjadi kreditur Indonesia lewat Letter of Intent (LoI) antara IMF dengan pemerintah Indonesia pada tahun 1998, sejak saat itulah fungsi Bulog dipangkas hanya untuk mengamankan komoditas pangan cadangan beras saja.

Kebutuhan pangan dikelompokkan berdasarkan pertimbangan bahwa komoditas itu merupakan kebutuhan orang banyak, fluktuasi harganya tinggi termasuk waktu dan tempatnya, dan komoditas itu masih memerlukan cadangan suplai dari impor. Harus dipahami bahwa kedelai sudah merupakan bagian dari komoditas pangan yang penting dalam masyarakat. Kacang kedelai merupakan komoditi yang banyak dipakai untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri, beberapa industri yang menggunakan kacang kedelai sebagai bahanbakuyaitu Pabrik Kecap, Pabrik Tempe, Pabrik Tahu. Kedelai yang masuk keIndonesiasebagian besar adalah hasil impor dari negaraCanadaatau Amerika. Saat ini, Amerika sedang dilanda kekeringan dan hujan yang berkepanjangan terjadi di Eropa, akibatnya produksi pangan dunia terganggu, salah satu negara yang terkena dampaknya adalahIndonesia. Saat ini, harga kedelai mencapai sekitar Rp 6800 – Rp 7000, yang semula hanya Rp 5600- Rp 6000. Sekilas hal ini mungkin terlihat tidak terlalu tinggi angka kenaikannya, namun bagi para produsen tempe lokal, kenaikan harga ini berdampak buruk bagi usaha mereka, sebagian memilih berhenti berproduksi sampai menunggu harga kedelai kembali stabil, tapi sebagian juga memilih untuk tetap memproduksi tempe namun dengan harga jual yang lebih tinggi, hingga akhirnya yang merasakan efeknya bukan lagi hanya produsen tapi juga konsumen. Lalu apa yang terjadi ketika harga pangan naik? Secara makro, akan banyak keluarga yang kemampuannya dibawah rata-rata harus mengeluarkan anak-anak mereka dari sekolah dan memakan makanan yang lebih murah dan tak bergizi, tentu saja hal ini akan memberikan dampak yang buruk pada jangka panjang.

Dalam kondisi yang seperti ini peranan Bulog kembali disorot. Revitalisasi fungsi Bulog bagi beberapa orang dirasa perlu dilakukan. Sudah saatnya Bulog kembali memegang peranannya sebagai stabilitator harga pangan, bukan lagi hanya menangani cadangan beras saja. Fenomena melonjaknya harga komoditas pangan seharusnya dapat dikurangi karena Bulog mampu berperan sebagai buffer stock, namun dalam hal ini kita tidak hanya berbicara fungsi Bulog sebagai importir, melainkan juga berbicara mengenai optimalisasi serapan yang dilakukan Bulog terhadap komoditas pangan lokal strategis agar kebutuhan pangan kita tidak melulu bergantung terhadap komoditi impor. Dalam hal ini, pemerintah juga diharapkan dapat mendukung para petani lokal dengan memberikan dukungan berupa insentif ataupun bantuan lainnya untuk menolong mereka agar dapat berproduksi pada kapasitas maksimal. Terakhir menurut hemat saya, jikalau revitalisasi Bulog akan dilakukan oleh pemerintah, tentu saja hal ini harus sudah didukung dengan tata kelola yang baik, agar kesalahan Bulog di masa yang lalu tidak lagi terulang dan kepercayaan masyarakat dapat kembali terhadap instansi ini.