Quo Vadis Pemuda

Jika Berbicara tentang kehidupan berbangsa dan bernegara, maka tidak akan lengkap apabila tidak juga membicarakan tentang pergerakan pemuda di negara tersebut. Semua orang pasti sangat setuju apabila dikatakan bahwa masa depan bangsa dan negara ini hampir sepenuhnya berada ditangan pemuda.

Contoh yang paling jelas adalah peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa ini,  proklamasi. Tanpa peran pemuda yang bertindak cepat meyakinkan Soekarno – Hatta untuk  segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pasca dijatuhkannya bom atom di Jepang pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 oleh Amerika Serikat, mungkin bangsa ini masih berada dalam kekuasaan Jepang yang tidak mau menepati janji untuk menyerahkan kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam.

Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 juga adalah sebuah terobosan politik yang sangat berani dari kaum pemuda Indonesia pada saat itu dalam rangka menjawab tantangannya, yaitu bagaimana mempersatukan bangsa ini yang sangat plural dan majemuk. Mereka berani bergerak cepat untuk melakukan perubahan demi kemajuan bangsa.

Di zaman penjajahan, yang diperjuangkan oleh pemuda adalah kemerdekaan. Hal  tersebut sangatlah berbeda dengan yang harus diperjuangkan oleh pemuda Indonesia era ini. Diperlukan perjuangan untuk menghajar kemelaratan, keserakahan, korupsi, dan sifat-sifat buruk lainnya yang sedang berkecamuk.

Namun, sayangnya kebanyakan pemuda saat ini terjebak dalam arus kehidupan yang  hanya mementingkan hal-hal yang berbau permukaan, semacam gaya berpakaian, mode  rambut, dan lain-lain, atau hanya berorientasi pada pemuasan kecenderungan untuk  bersenang-senang, dimangsa oleh nilai-nilai kebudayaan lain.

Era telah berubah dari semula bernuansa ideologis di masa lalu menjadi pragmatis  materialistis di jaman ini.

Kita, sebagai kaum muda saat ini, generasi muda penerus bangsa seharusnya dan  sebaiknya menjawab kegigihan dan perjuangan kaum muda saat era penjajahan dengan cara mengumandangkan semangat untuk merdeka dari belenggu ketertinggalan, kebodohan,  kemiskinan, keterpurukan, kemunafikan, ketidakjujuran, dan ketidakadilan.

Karena kiprah generasi muda sedang ditunggu oleh waktu, Quo Vadis Pemuda  Indonesia.
Oleh: MGS. M. Mansyurdin Meidino & Windy (Calon Ketua & Wakil BEM PE FEUI 2013)